Tari Petik Kopi yang merupakan tarian identik dengan penari wanita ini cukup unik. Tarian ini mengangkat Bondowoso yang dikenal dengan penghasil kopi arabika terbaik. Sebutan Bondowoso Republik Kopi (BRK) pun masih melekat hingga saat ini.
Tari Petik Kopi saat ini masuk dalam situs budaya Ijen Geopark wilayah Bondowoso, dan menjadi salah satu warisan budaya yang wajib dilestarikan. Tampilan petani perempuan itu sederhana, tetapi berkarakter tegas dan luwes sedang memanen atau memetik kopi. Tarian ini biasa ditampilkan pada momen panen raya kopi dengan iringan alunan musik tong-tong, yaitu musik tradisional dengan instrumen berupa kentongan. “Tari Petik Kopi ini merupakan situs warisan budaya tak benda yang berasal dari Desa/Kecamatan Sumberwringin,” ujar Tantri Raras, salah satu tim ahli budaya Ijen Geopark.
Salah satu sanggar yang sering mementaskan tari Petik Kopi adalah Raung Abinaya, terletak di Kecamatan Sumberwringin. Menurut Tantri, budaya tradisi tari Petik Kopi seharusnya dapat dilestarikan secara masif dengan cara dikenalkan kepada siswa-siswi SD, SMP, hingga SMA maupun kaum remaja milenial. “Edukasi budaya ini kami harap bisa menyentuh masyarakat dan dimiliki oleh warga Bondowoso. Punya kebanggaan tersendiri,” terang alumnus Universitas Jember tersebut.
Ke depan pihaknya berharap tari Petik Kopi ataupun budaya Singo Ulung dapat masuk ke dalam pembelajaran anak-anak sekolah. "Memang edukasi mengenai budaya harus ditekankan kepada para siswa,” katanya.
Dia berharap nantinya tari petik kopi ini bisa melekat dan menjadi budaya Bondowoso. Serta menjadi kebanggaan semua warga. "Bisa masuk ke dunia pendidikan dan dipraktikkan,” harapnya.
Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri