Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, kompetisi tersebut diikuti oleh sejumlah siswa mulai dari PAUD/TK, SD sederajat, SMP, hingga SMA sederajat. Ada 63 lembaga pendaftar secara keseluruhan. Sebanyak 25 pendaftar di antaranya dari kategori PAUD, 17 lembaga SD, 20 lembaga SMP, dan 1 SMA. Masing-masing kategori kemudian dipilih lima terbaik. Kecuali kategori SMA, karena pada kategori tersebut hanya ada satu pendaftar. Dari jumlah pendaftar tersebut kemudian dipilih 16 juara.
Belasan sekolah yang berhasil memenangi kompetisi tersebut memperoleh penghargaan dari pemkab. Hadiah diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat bersama Kepala Disparpora Bondowoso Mulyadi dan sejumlah pihak lainnya.
Kompetisi tersebut digelar untuk mengedukasi siswa tentang Ijen Geopark. Lomba itu terdiri atas kategori geologi, biologi, dan budaya. Setiap sekolah yang ikut serta dalam kompetisi itu harus menyediakan ruang yang memuat miniatur dan informasi tentang situs yang masuk dalam Ijen Geopark.
Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat mengatakan, melihat para peserta dalam kompetisi tahun ini, dinilainya masih kurang. Terlebih untuk tingkat SMA yang hanya ada satu pendaftar. Pihaknya menegaskan agar Ijen Geopark Corner Competition di tahun 2022 lebih ditingkatkan lagi, sehingga para siswa mampu mengenal daerah mana saja yang masuk dalam Ijen Geopark. Serta budaya apa saja yang masuk di dalamnya.
Irwan menyarankan dalam setiap tingkatan lembaga harus dibedakan kategori lombanya. Misalnya di PAUD membuat miniatur, SMA karya tulis dan semacamnya. "Jadi, harus ada edukasi terhadap pendidikan tentang Ijen Geopark, baik warisan benda maupun nonbenda. Serta harus didata dan diinformasikan kepada siswa," katanya.
Pihaknya berharap agar Disparpora mendata kembali seni budaya di Bondowoso, baik yang sifatnya benda maupun nonbenda. "Eksplorasi seni dan budaya harus terus dilakukan. Ada kuliner, sejarah, dan sebagainya. Harus masuk dalam dunia pendidikan," jelasnya.
Menurut dia, seni budaya yang masuk di Ijen Geopark harus dipetakan. Seperti Kecamatan Pujer yang jadi wilayah Ijen Geopark dan beberapa kecamatan lainnya. "Secara teknis, nanti Disparpora dan tim Ijen Geopark yang menyampaikan," imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Disparpora Bondowoso Mulyadi mengatakan, sebenarnya Ijen Geopark sudah disosialisasikan ke setiap sekolah. "Di sekolah-sekolah sebagian ada yang dijadikan muatan lokal. Nanti bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan agar dijadikan muatan lokal yang dipatenkan," paparnya.
Sebagaimana diketahui, secara garis besar ada tiga situs Ijen Geopark yang diajukan ke UNESCO Global Geopark. Yakni situs geologi, biologi, dan culture (budaya). Situs geologi ada sembilan, terdiri atas Kawah Ijen/Blue Fire, Kawah Wurung, aliran asam Kalipait, Kompleks Mata Air Panas Blawan, Lava Blawan, Air Terjun Gentongan, Aliran Lava Plalangan, Dinding Kaldera Ijen Megasari, dan Taman Batu So'on Solor.
Situs Biologi terdiri atas Hutan Pelangi dan Kopi Bondowoso. Sementara, situs budaya yakni struktur Gua Butha Sumber Canting, struktur Gua Butha Cermee, Situs Megalitikum Maskuning Kulon, Singo Ulung, dan Tari Petik Kopi. Ijen Geopark Bondowoso tersebut diajukan agar masuk dalam UNESCO Global Geopark (UGG). Penilaian lapangan dari tim UGG rencananya digelar pada tahun 2022.
Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Ilham Wahyudi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri