Kini, sudah ada tiga rumah sakit rujukan Covid-19 di Bondowoso. Ditambah ada lima puskesmas yang baru saja dijadikan fasilitas kesehatan (faskes) khusus melayani pasien Covid-19. Tak ayal, intensitas mobil ambulans pembawa pasien rujukan pun cukup sering.
Biasanya, ambulans itu tak melulu membawa pasien Covid-19. Tetapi, juga pasien non-Covid-19 yang dalam keadaan darurat untuk segera dirujuk ke rumah sakit. Namun belakangan, suara sirene ambulans itu mendapat komplain dari beberapa masyarakat.
Ketua Komisi IV DPRD Bondowoso Ady Kriesna membenarkan hal itu. “Soal sirene mobil ambulans itu memang benar diadukan kepada kami, anggota Komisi IV,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Ijen.
Sebelumnya, kata dia, berdasarkan hasil rapat kerja dan evaluasi antara Komisi IV bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso, disarankan kepada para sopir ambulans agar tak menyalakan sirene ketika melintas di jalanan desa. “Ya mohon diperhatikan lagi untuk sopir ambulans, kalau memasuki jalan desa atau perkampungan warga agar tidak menyalakan suara sirenenya. Karena juga mempertimbangkan kondisi psikologis warga yang menjadi takut dan cemas,” imbuh Ady.
Hampir setiap hari ambulans tersebut membawa jenazah pasien positif Covid-19. Dan dimakamkan di pemakaman umum desa dengan protokol kesehatan. Ady menyebut, psikologis warga menjadi cemas dan takut setiap mendengar suara sirene ambulans tersebut. “Kalau mendengar suara sirene mobil ambulans, pikiran kebanyakan warga itu mengantar jenazah Covid-19,” lanjutnya.
Meski begitu, dalam rapat kerja tersebut, suara ambulans tetap dan wajib dinyalakan kembali ketika sudah berada pada jalan protokol. “Suara sirene itu bisa dibunyikan lagi di jalan utama kabupaten atau provinsi. Terutama di persimpangan. Karena memang ambulans ini mobil yang harus didahulukan di jalan raya,” ungkapnya.
Selain persoalan suara sirene ambulans, Komisi IV juga memberikan saran kepada Dinkes terkait pelayanan puskesmas. “Kami juga menyarankan agar puskesmas yang melayani pasien non-Covid-19 juga harus siap. Siap apabila sewaktu-waktu ada lonjakan penyakit lainnya,” harap Ady.
Sementara itu, lima puskesmas yang sudah ditunjuk menjadi faskes rujukan Covid-19 juga harus maksimal memberikan pelayanan. “Harus tetap diperhatikan tenaga kesehatannya. Dan APD-nya harus siap,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, ada lima puskesmas yang sudah menjadi faskes rujukan Covid-19. Kelima puskesmas itu adalah Puskesmas Pujer, Puskesmas Prajekan, Puskesmas Grujugan, Puskesmas Tamanan, dan Puskesmas Wringin.
Jurnalis: Muchammad Ainul Budi
Fotografer: Muchammad Ainul Budi
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri