Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Rela Tinggalkan Pekerjaan dengan Gaji Belasan Juta untuk Beternak

Safitri • Rabu, 21 Juli 2021 | 17:15 WIB
TELATEN: Mahrus Ali, seorang peternak domba, tengah sibuk mengecek domba-domba di kandang induk miliknya. Ia juga terlihat sibuk melayani pembeli domba untuk kurban Idul Adha 1442 H.
TELATEN: Mahrus Ali, seorang peternak domba, tengah sibuk mengecek domba-domba di kandang induk miliknya. Ia juga terlihat sibuk melayani pembeli domba untuk kurban Idul Adha 1442 H.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID - Pagi itu, seorang pria dengan baju loreng hitam merah terlihat tengah sibuk mengecek satu per satu hewan ternak miliknya. Dia sibuk memastikan kondisi domba-domba di kandang indukan miliknya dalam kondisi baik. Selain itu, dirinya juga terlihat sibuk melayani pembeli domba untuk Idul Adha 1442 H.

Mahrus Ali namanya. Dia adalah salah seorang peternak yang terbilang cukup sukses di Kabupaten Bondowoso. Ternyata usia pria ini masih cukup muda, yakni 31 tahun. Uniknya, dia sudah memiliki kandang ternak modern dengan luas lahan 3,5 hektare. Bahkan, seakan tidak puas dengan pencapaiannya saat ini, Mahrus memiliki rencana ke depan akan mengembangkan kandangnya menjadi 6 hektare.

Saat ini, pembangunan tengah berlangsung. Kandang-kandang miliknya didesain secara bagus, sehingga membuat hewan ternaknya nyaman di kandang tersebut. Bahkan, kandang ternak milik Mahrus tidak hanya didesain secara optimal. Namun, juga dilengkapi sistem keamanan, yakni berupa kamera pemantau di berbagai titik.

Kandang-kandang itu penuh dengan ternak. Terdiri atas kambing, domba, dan sapi. Bukan itu saja, salah satu kandangnya juga ada yang berisi burung puyuh. Kebersihan kandang pun terjaga dengan baik, sehingga tak ada bau menyengat dari kotoran hewan ternak miliknya.

Peternakan yang diberi nama Al Fatih Farm ini berlokasi di belakang rumahnya. Tepatnya di Desa Kupang, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso.

Mahrus mengaku, kesuksesannya saat ini tentu tidak didapatkannya secara cuma-cuma. Banyak proses dan ikhtiar yang dilaluinya. Di awal, dia pun pernah bangkrut.

Bahkan, pada awal merintis agar bisa fokus di ternak, dia harus meninggalkan pekerjaannya di bidang tambang batubara di Kalimantan. Meskipun saat itu posisinya sangat strategis dengan gaji yang fantastis. "Saat itu gaji saya minimal Rp 15 juta ke atas. Bahkan bisa Rp 20 juta per bulan. Tapi saya tinggal, karena potensi untuk ternak di Bondowoso ini sangat besar," katanya.

Diungkapkannya, selain finansial, keberanian, niat yang sungguh-sungguh, dan perhitungan yang matang juga menjadi modal utamanya, tentu juga harus siap dengan segala risiko. Apalagi dalam roda kehidupan dan siklus usaha tentu tidak akan terus mengalami keuntungan. Sesekali juga pasti akan mengalami kondisi terpuruk.

Menurutnya, masih banyak warga di Bondowoso yang menganggap beternak hanya sampingan. Padahal baginya itu pendapat yang kurang pas. "Beternak itu melebihi pekerjaan yang saya kerjakan sebelumnya," imbuhnya.

Mahrus mulai menggagas usahanya pada 2016. Saat itu dia tak langsung berhenti dari pekerjaannya, tetapi memilih cuti dan pulang dari Kalimantan. Sebelum ini, dirinya bekerja di perusahaan tambang sejak 2010 dan mulai mengumpulkan modal. "Sebenarnya niat untuk memiliki peternakan itu sudah lama. Sebagian gaji saya buat beli tanah yang sekarang ditempati ini," ungkapnya.

Kemudian, ia memutuskan resign pada 2017. Pesangon dari perusahaan tambang dijadikan modal untuk mengembangkan usahanya. "Secara analisis usaha, di peternakan itu lebih bagus potensinya. Selain itu, saya bisa berkumpul dengan keluarga," jelasnya.

Tentu dalam menjalankan usahanya, Mahrus sempat mengalami kendala hingga bangkrut pada 2017. "Jadi, ternak saya tak dibayar oleh pengusaha. Nilainya Rp 600 juta. Padahal itu modal, dan orangnya menghilang," kenangnya.

Pihaknya menjelaskan bahwa saat bangkrut dirinya hanya selalu sibuk mengembangkan usaha dan lalai terhadap agama. "Lupa zakat dan sebagainya. Akhirnya diuji dengan kegagalan," imbuhnya.

Namun, tak menunggu lama, dia introspeksi diri dan segera bangkit lagi. Mahrus menata lagi usahanya dan kembali memperbaiki aktivitas keagamaan atau spiritualnya. Seakan tidak ingin terpuruk dalam kegagalan, dia kemudian terus bangkit hingga saat ini.

Dari pengalamannya, dia menyimpulkan bahwa bisnis tidak semata-mata hanya menggunakan analisis usaha. Tapi juga harus meningkatkan hubungan dengan Tuhan. Menurutnya, usaha dan agama tidak bisa dipisahkan. Akibat melalaikan agama, kata dia, banyak pelaku usaha yang gagal di sana.

"Usaha dunia harus sejajar dengan usaha langit. Ternyata usaha dunia dan agama itu tidak bisa dipisahkan. Akhirnya, saya bangkit lagi di bulan keenam setelah bangkrut. Alhamdulillah sukses sampai saat ini," jelasnya.

Nama Al Fatih diambil dari nama anak pertamanya. Di sisi lain, Al Fatih adalah seorang pejuang Islam yang berhasil menaklukkan Konstantinopel. "Saya ingin peternakan ini bisa mendunia seperti Sultan Mohammad Al Fatih. Perjuangan saya di bidang perekonomian. Kita di bidang peternakan dan Al Fatih bidang agama. Tapi sama-sama perjuangan," terangnya.

Dengan kegigihan dan semangat juang, kini peternakannya menjadi besar. Saat ini total ada sekitar 18 ribu ternak yang dia rawat. Sementara, di kandang induk bisa menampung 6 ribu ekor domba dan 200 ekor sapi.

Al Fatih Farm juga mempunyai ratusan mitra. Yakni untuk domba ada 600 kandang, dan sapi 215 hingga 250 ekor. "Ada yang mandiri dan ikut KUR BNI, total sekitar 900 kandang," imbuhnya.

Sementara itu, di kandang induk dia mempekerjakan 15 hingga 20 orang. Dengan total keseluruhan ada 40 karyawan tetap. "Ada pengiriman ke luar, pengambilan pakan, divisi penggemukan, kemitraan, dan divisi-divisi yang lain. Dari hulu ke hilir kami sudah solid," jelasnya.

Awal merintis usaha, dia berniat hanya ingin memberdayakan anggota keluarga. Tapi, pada akhirnya bisa mempekerjakan masyarakat. "Kalau saya autodidak. Intinya mau berkembang. Dasar sekolah saya pertanian. Tidak punya dasar peternakan sama sekali. Pelaku usaha harus belajar dan belajar," jelasnya.

Dari usaha peternakan yang dia jalani, Mahrus bisa memperoleh omzet sebesar Rp 1,5 miliar sampai Rp 2 miliar per bulan. "Alhamdulillah, dibanding saat kerja di tambang, cukup lah," imbuhnya.

Peternakan Al Fatih Farm di Kabupaten Bondowoso milik Mahrus Ali kini menyuplai ternak hingga ke luar kabupaten/kota. Bahkan, di momen Idul Adha ini sudah terjual 3.200 domba dan 115 ekor sapi untuk kurban. "Iya, juga ada dari luar yang beli. Ponpes Al-Islah Bondowoso saja beli sekitar 500 ekor dan 26 sapi," terangnya.

Jurnalis: Ilham Wahyudi
Fotografer: Ilham Wahyudi
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri
#Peternakan