Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Perlihatkan Tradisi Lokal Bondowoso di Kancah Nasional

Radar Digital • Selasa, 6 April 2021 | 16:46 WIB
MEMUKAU: Penampilan tradisi “pandhebeh” Bondowoso. Memperlihatkan seni sekaligus tradisi daerah.
MEMUKAU: Penampilan tradisi “pandhebeh” Bondowoso. Memperlihatkan seni sekaligus tradisi daerah.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Anjungan Jawa Timur di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, kembali memberikan kesempatan bagi kabupaten/kota di Jawa Timur untuk memperkenalkan seni dan budaya yang dimiliki. Termasuk dari Kabupaten Bondowoso. Kali ini, yang ditampilkan dalam agenda tersebut adalah tradisi rokat pandhebeh. Ditampilkan pada Minggu (4/4).

Endah Listyorini, Kasi Budaya dan Tradisi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bondowoso, menyampaikan, setiap tahunnya Anjungan Jawa Timur memberikan kesempatan kepada daerah untuk menampilkan seni dan budayanya. Serta memberikan kesempatan untuk para seniman yang berada di daerah untuk tampil di TMII. “Bondowoso sendiri setiap tahun memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya kepada para seniman secara bergantian,” ungkap Endah.

Cerita yang ditampilkan kali ini tradisi rokat pandhebeh, yang memiliki arti dan sejarah tersendiri. Tradisi tersebut sampai saat ini masih tetap hidup di masyarakat. Tampilan ini erat kaitannya dengan pernikahan anak tunggal.

Endah menjelaskan, rokat pandhebeh menceritakan anak tunggal yang akan dinikahkan. Dia harus di-rokat terlebih dahulu. Dalam rokat tersebut dilaksanakan macapat dan siraman. Dengan berbagai syarat yang harus dilakukan. Di antaranya, menyediakan kue tradisional tujuh macam, ketupat lepet, ayam panggang, ongkek beserta isinya. Serta satu ekor ayam hidup.

Seluruh persyaratan itu akan diperebutkan oleh masyarakat atau penonton. “Ayamnya untuk dilepas dan diperebutkan oleh masyarakat atau penonton. Begitu juga ongkek dan kue tradisional, semua diperebutkan,” jelasnya.

Setelah itu, esok hari upacara pernikahan diawali dengan kirab pengantin dinaikkan kuda yang sudah dihias. Lalu, mulailah dengan perayaan pernikahan.

Penampilannya di TMII kali ini diikuti oleh 45 orang asli Bondowoso. Mereka terdiri atas gabungan kelompok seni binaan Dikbud. Untuk mendapatkan penampilan yang maksimal, Endah menyebutkan, harus melalui kurang lebih 20 kali latihan.

Dalam latihan tersebut, ternyata masih dijumpai beberapa tantangan. Salah satu yang mencolok adalah menyatukan karakter pemain dalam cerita.

Endah menuturkan, selain menampilkan rokat pandhebeh, pada praacara Dikbud Bondowoso juga menampilkan tari Topeng Bujuk. Tarian ini sengaja dibuat untuk ditunjukkan dalam pertunjukan yang dilaksanakan kali ini. “Ini sengaja kami buat untuk pertunjukan di Anjungan Jawa Timur tahun ini,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : mg3
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Solikhul Huda Editor : Radar Digital
#Bondowoso