Bagi petani mereka yang baru tanam, saat ini harus melakukan perawatan lebih. Tentunya harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak daripada musim kemarau.
Busrianto, salah seorang petani cabai di Bondowoso mengatakan, para petani yang menanam cabai di musim hujan akan menghadapi beberapa kendala. Salah satunya kendala cuaca yang tidak kondusif. Ada resiko tumbuh kembang tanaman tidak normal. Hingga berkembangnya organisme pengganggu tanaman baik hama maupun penyakit tanaman. “Resiko kegagalan panennya menjadi lebih besar,” paparnya.
Dirinya juga menjelaskan, saat musim hujan tanaman cabai rawan terserang penyakit. Seperti cacar daun (Antraknosa), layu fusarium, ataupun busuk batang (treep). Hal tersebut mengancam petani gagal panen. “Kalau sudah terserang penyakit ini. Bisa gagal panen mas,” jelasnya.
Dijelaskan, saat musim hujan tanaman cabai membutuhkan perawatan ekstra. Yang harus dilakukan secara rutin. Agar hasil panennya tetap seperti biasanya. Berbeda ketika kondisi musim kemarau. Pada musim tersebut kendala yang dihadapi para petani hanya masalah air saja.
Selain itu, pada musim kemarau penyemprotan pestisida tanaman cabai cukup dilakukan satu kali dalam sepekan. Sementara, saat musim hujan, penyemprotan pestisida harus dilakukan tiga hari sekali. Bahkan harus lebih dari jumlah tersebut. “Misalnya, habis nyemprot pagi, siang sudah hujan. Besoknya harus disemprot lagi,” terangnya.
Curah hujan yang tinggi juga membuat pupuk cepat larut ke dalam tanah. Padahal belum diserap oleh tanaman cabai. Sehingga nutrisi yang didapatkan juga berkurang. Hal tersebut juga terjadi pada cairan yang disemprotkan pada tanaman cabai. Pestisida, insektisida, fungisida misalnya, akan cepat terhapus air hujan. Sehingga fungsi dari cairan tersebut tidak berjalan dengan maksimal.
Harga cabai juga sering meningkat ketika musim hujan datang. Seperti yang diberitakan sebelumnya, harga capai mencapai Rp 110 ribu perkilogramnya. Sementara, para petani banyak yang mengalami gagal panen. Akibat tanamannya terserang penyakit tanaman. Tidak jarang pula para petani tidak mau menanam cabai kembali. Karena takut akan mengalami kegagalan yang sama. “Gagal sekali, kadang enggan tanam cabai lagi. Langsung banting setir mas. Ada yang merantau ada yang nguli kadang,” pungkasnya.
Jurnalis: mg3
Fotografer: Istimewa
Editor: Solikhul Huda Editor : Safitri