Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Cabai di Pasar Masih Terus Mahal

Safitri • Kamis, 18 Maret 2021 | 17:02 WIB
PERAWATAN: Petani cabai harus melakukan perawatan lebih ketika musim hujan datang.
PERAWATAN: Petani cabai harus melakukan perawatan lebih ketika musim hujan datang.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Harga cabai di Pasar Induk Bondowoso, masih terus mahal. Kisaran Rp 110 ribu perkilogram. Sementara ditataran petani, kini mulai tanam. Namun musim penghujan, masih memiliki tantangan tinggi.

Bagi petani mereka yang baru tanam, saat ini harus melakukan perawatan lebih. Tentunya harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak daripada musim kemarau.

Busrianto, salah seorang petani cabai di Bondowoso mengatakan, para petani yang menanam cabai di musim hujan akan menghadapi beberapa kendala. Salah satunya  kendala cuaca yang tidak kondusif. Ada resiko tumbuh kembang tanaman tidak normal. Hingga berkembangnya organisme pengganggu tanaman baik hama maupun penyakit tanaman. “Resiko kegagalan panennya menjadi lebih besar,” paparnya.

Dirinya juga menjelaskan, saat musim hujan tanaman cabai rawan terserang penyakit. Seperti cacar daun (Antraknosa), layu fusarium, ataupun busuk batang (treep). Hal tersebut mengancam petani gagal panen. “Kalau sudah terserang penyakit ini. Bisa gagal panen mas,” jelasnya.

Dijelaskan, saat musim hujan tanaman cabai membutuhkan perawatan ekstra. Yang harus dilakukan secara rutin. Agar hasil panennya tetap seperti biasanya. Berbeda ketika kondisi musim kemarau. Pada musim tersebut kendala yang dihadapi para petani hanya masalah air saja.

Selain itu, pada musim kemarau penyemprotan pestisida tanaman cabai cukup dilakukan satu kali dalam sepekan. Sementara, saat musim hujan, penyemprotan pestisida harus dilakukan tiga hari sekali. Bahkan harus lebih dari jumlah tersebut. “Misalnya, habis nyemprot pagi, siang sudah hujan. Besoknya harus disemprot lagi,” terangnya.

Curah hujan yang tinggi juga membuat pupuk cepat larut ke dalam tanah. Padahal belum diserap oleh tanaman cabai. Sehingga nutrisi yang didapatkan juga berkurang. Hal tersebut juga terjadi pada cairan yang disemprotkan pada tanaman cabai. Pestisida, insektisida, fungisida misalnya, akan cepat terhapus air hujan. Sehingga fungsi dari cairan tersebut tidak berjalan dengan maksimal.

Harga cabai juga sering meningkat ketika musim hujan datang. Seperti yang diberitakan sebelumnya, harga capai mencapai Rp 110 ribu perkilogramnya. Sementara, para petani banyak yang mengalami gagal panen. Akibat tanamannya terserang penyakit tanaman. Tidak jarang pula para petani tidak mau menanam cabai kembali. Karena takut akan mengalami kegagalan yang sama. “Gagal sekali, kadang enggan tanam cabai lagi. Langsung banting setir mas. Ada yang merantau ada yang nguli kadang,” pungkasnya.

Jurnalis: mg3

Fotografer: Istimewa

Editor: Solikhul Huda Editor : Safitri
#Bondowoso #Pertanian