Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Batang Pohonnya Dipengaruhi Proses Oksidasi

Safitri • Sabtu, 13 Februari 2021 | 18:00 WIB
MUNCUL SECARA ALAMI: Hutan pelangi masuk dalam road map Ijen Geopark wilayah Bondowoso. Batangnya yang berwarna menjadi keunikan tersendiri.
MUNCUL SECARA ALAMI: Hutan pelangi masuk dalam road map Ijen Geopark wilayah Bondowoso. Batangnya yang berwarna menjadi keunikan tersendiri.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID - Hutan pelangi masuk dalam satu lokasi Ijen Geopark wilayah Bondowoso. Keunikan warna pada batang pohon ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Batang pohon jenis Eucalyptus deglupta yang tumbuh di kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Sumberwringin ini muncul secara alami.

Munculnya warna pada batang pohon itu dipengaruhi oleh proses oksidasi. Rendy Setiawan, tenaga ahli biologi di Ijen Geopark Wilayah Bondowoso, menjelaskan bahwa tumbuhan Eucalyptus merupakan famili Myrtaceae (jambu-jambuan).

Karakteristik famili Myrtaceae batang pohonnya akan mengalami pengelupasan. Proses pengelupasan batang pohon terjadi setiap satu minggu. "Khusus Eucalyptus punya getah yang keluar saat batang mengelupas. Getah yang keluar itu membasahi batang tanaman. Kemudian, ada reaksi oksidasi antara getah dengan oksigen lalu menimbulkan gradasi warna," jelasnya.

Rendy memaparkan, biasanya pada proses pertama akan muncul warna biru pada batang yang diselimuti getah. Bila getah sudah mengering, batang bisa berubah warna. Itu berlanjut hingga munculnya warna-warna lain.

"Eucalyptus deglupta adalah tanaman endemik asli wilayah Papua dan Maluku. Di wilayah itu, warna yang muncul lebih beragam. Misal ada warna oranye, marun, dan violet,” tutur dia.

“Kalau di Bondowoso yang menonjol warna hijau, biru, dan kuning. Suhu, kelembaban, intensitas cahaya juga memengaruhi munculnya warna," sebutnya.

Rendy mengungkapkan, Eucalyptus deglupta diproduksi atau ditanam di wilayah hutan Sumberwringin pada 1937. Saat ini, pohon tersebut telah berusia 83 tahun. "Tanaman ini bisa hidup sampai ratusan tahun. Sehingga akan terus tumbuh menjulang," tutupnya. Editor : Safitri
#Geopark