Kerawanan itu menjadi salah satu alasan pedagang daging ayam dan sayur enggan pindah ke lantai atas. Mereka memilih berjualan di pinggir jalan. Meski sebenarnya sudah berkali-kali ditertibkan.
“Ada pedagang yang diambil uangnya oleh preman mabuk. Kenapa? Karena saking sepinya di lantai atas itu,” ujar Sitti Aisyah, salah seorang pedagang.
Padahal, ternyata untuk keamanan, petugas sudah memasang closed circuit television (CCTV) di setiap sudut pasar induk.
Kepala Keamanan Pasar Kapten Kav (purn) Mur Dwi Atmojo mengatakan, saat ini sudah ada CCTV. Selain itu, ada petugas yang memantau lapangan. Memang pemantauan secara langsung tidak dijadwalkan, agar tidak bisa ditebak. Baik oleh pedagang maupun orang yang punya maksud jelek di pasar. "Kami tidak hanya memantau keamanan, namun juga terkait ketertiban pedagang. Karena kalau tertib, pasar akan aman. Begitu juga sebaliknya," terangnya.
Pihaknya tak hanya mengamankan pasar induk, tapi juga pasar di seluruh Bondowoso. "Mulai pasar Maesan, Prajekan, dan seterusnya, bergiliran setiap hari," imbuh dia.
Menurutnya, hanya ada dua purnawirawan TNI yang ditugaskan sebagai keamanan pasar. "Nanti juga butuh penambahan personel, tapi perlu dilihat etos kerjanya. Saya ditugaskan langsung bupati dan wabup. Ada SK-nya," tegasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, di Pasar Induk Bondowoso terdapat 30 ruko, 30 toko, sebanyak 770 kios, dan 350 pelataran. Sementara monitor pantau CCTV pasar berada di kantor UPT. Editor : Safitri