Ir Cisilia Sunarti, Kepala Bidang Perkebunan Jawa Tengah, menerangkan bahwa rombongannya belajar tentang pengelolaan tembakau. Di Bondowoso ada pengelolaan yang unik. Pertama, tembakau untuk pengobatan. Kedua, pengolahan gagang tembakau dan tembakau rusak untuk dijadikan bahan yang memiliki nilai tinggi. “Saya mencoba terapi dari dr Rasmono, di UPTD Pengembangan Tanaman Obat dan Pelayanan Kesehatan Tradional Bondowoso,” jelasnya.
Terapi yang dimaksud adalah terapi pengasapan menggunakan tembakau. Selain itu, rombongan melihat penggunaan tembakau sebagai dupa dan sebagai bahan sterilisasi ruangan.
Selain itu, ada pengolahan bahan-bahan yang selama ini dianggap tidak ada nilainya. Misalnya tembakau yang rusak dan gagang tembakau. Di tataran petani, beberapa bahan itu sering dibuang. Namun, oleh Natobin Tobacco di Maesan, Bondowoso, diolah kembali.
Ismu Handoko dari Natobin mengatakan, berbagai bahan yang diolahnya adalah bahan yang selama ini disepelekan. Namun, ketika diolah kembali, pangsa pasarnya ekspor. Misalnya gagang tembakau dan tembakau rusak. “Kami juga mengolah cengkih dari rontokan cengkih yang tidak dipakai dan banyak bahan lainnya. Pangsa pasarnya kebanyakan ekspor,” ujarnya, ketika memberi penjelasan di gudang Natobin Maesan, kemarin.
Perkembangan pengolahan tembakau di Bondowoso itu mengundang ketertarikan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah yang ikut rombongan. Bahkan ingin ada kerja sama dengan Bondowoso. Editor : Safitri