Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menengok Ruangan Khusus ODGJ

Safitri • Senin, 16 November 2020 | 18:14 WIB
MENYIMAK: Sebanyak 52 tenaga pendidik SD KKG Gugus saat menerima materi terkait pemanfaatan perkembangan teknologi untuk pembelajaran.
MENYIMAK: Sebanyak 52 tenaga pendidik SD KKG Gugus saat menerima materi terkait pemanfaatan perkembangan teknologi untuk pembelajaran.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Siang itu Jawa Pos Radar Ijen mengunjungi paviliun khusus yang terletak di area belakang RSU dr Koesnadi. Paviliun khusus itu bernama Paviliun Seroja. Tempat itu adalah tempat ODGJ dirawat.

Paviliun Seroja didirikan sudah cukup lama. Tepatnya sekitar tahun 2015 silam. Sudah puluhan pasien ODGJ Bondowoso keluar masuk kamar itu. Total ada 17 tempat tidur di paviliun ini. Tentu kamar pria dan wanita dipisah.

Juga ada kamar khusus. Semacam sel isolasi, bagi para pasien yang memberontak, emosi, atau sedang kumat-kumatnya. Mereka dipisahkan ke sel khusus itu dalam beberapa hari ke depan. Tujuannya ya agar lebih menenangkan diri dan dikembalikan ke kamarnya nanti.

“Ya, pasien yang dimasukkan di sana tentu ada alasannya. Seperti berperilaku kasar, memukul atau berkata kasar. Agar tidak mengganggu pasien lainnya yang sedang tenang,” Saiful Walid, Kepala Ruangan Paviliun Seroja.

Tercatat mulai tahun 2018 total Paviliun Seroja merawat 301 pasien, tahun 2019 meningkat menjadi dengan 400 pasien. Serta sejak bulan Januari hingga Oktober tahun ini ada 262 pasien. “Tahun ini agak menurun ya. Mungkin karena dalam kondisi pandemi,” bebernya.

Kegiatan pasien ODGJ di sana pun sebenarnya terus diwarnai kegiatan positif. Mereka dirawat intensif dan mendapat perhatian khusus. Para perawat, satpam, dan penjaga lainnya dapat mengamati gerak-geriknya melalui layar monitor CCTV. “Kalau pagi ya ada kegiatan senam dan refreshing seperti karaoke. Kegiatan keagamaan juga tetap dilaksanakan. Seperti salat berjamaah ataupun salawatan,” imbuh Saiful.

Rata-rata pasien ODGJ yang dirawat di sana bisa berbulan-bulan. Ada yang sebulan, dua bulan, dan maksimal tiga bulan. Mereka di sana tanpa didampingi keluarga. Pihak keluarga hanya dapat menjenguknya. “Sementara ini, total ada 13 pasien pria dan empat wanita,” lanjutnya.

Jawa Pos Radar Ijen sempat masuk di ruangan pasien pria. Beberapa dari mereka siang itu sedang tidur. Salah satu dari mereka juga ada yang jalan putar-putar kamar. Ada juga salah seorang pasien cukup lancar diajak berbincang oleh dokter dan petugas.

Bahkan, salah satu pasien berinisial YD cukup lancar diajak mengobrol oleh Muzayyanah, pendamping pasung Dinsos Bondowoso. Bahkan, YD mengaku bahwa dulunya dia sempat dipasung di tengah hutan. Dia pun menunjukkan bekas luka bakar yang ada di kakinya, ketika dirinya dipasung. YD sempat sembuh kembali ke rumah keluarganya. Namun, dia tak rutin minum obat. Akhirnya terpaksa kembali lagi ke Seroja.

Di ruangan ini, pasien mendapat makan tiga kali sehari. Ada lokasi makan khususnya. Tidak makan di kamar. “Kalau makan, mereka ya normal. Tidak berserakan. Salat pun ya kami berjamaah,” ujar Saiful.

Rata-rata, setelah dianggap mulai normal, pasien dipulangkan kembali ke rumah keluarganya. Jarang, bila dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur di Surabaya atau Lawang di Malang. Namun, siklus pulang pergi masih saja banyak terjadi. Contohnya YD. Setelah cukup normal, balik ke rumah, tak minum obat secara rutin, ya kembali lagi ke Seroja.

“Kalau memang tidak ada perubahan ya kami rujuk ke RSJ Menur atau Lawang. Tapi itu semua tetap atas izin dan kesanggupan pihak keluarga utamanya,” pungkas Saiful.

  Editor : Safitri