Pertama, kebutuhan lahan jauh lebih sedikit. Kebutuhan pupuk dan air juga lebih sedikit. Sehingga biaya operasionalnya bisa ditekan banyak. Namun, proses awalnya membutuhkan biaya yang lumayan besar. Khususnya biaya untuk benih, membeli polybag dan tenaga kerja. “Tetapi selanjutnya, biaya produksinya lebih rendah. Sebab, polybag yang telah digunakan bisa dipakai untuk penanaman selanjutnya,” kata Miftahul Huda kepada Jawa Pos Radar Ijen, kemarin.
Menurut dia, sistem penanaman padi dengan polybag menjadi alternatif pertanian ke depannya. Sebab, sistem polybag bisa memanfaatkan lahan yang tidak produktif. Seperti di halaman, di lahan perumahan, atau perkampungan. “Hanya saja, tanahnya diolah lebih dahulu sebelum dimasukkan polybag,” terangnya.
Selain itu, perawatannya juga lebih muda. “Jumlah polybag ini sekitar 8000. Setara dengan tanam pada satu hektare di lahan konvensional,” imbuhnya. Namun, diperkirakan hasilnya jauh lebih banyak daripada proses budi daya padi biasa.
Sedangkan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk perawatan hanya satu orang. “Tenaga perawatan cukup satu, untuk menyiramkan air yang sudah tersistem dan untuk menghilangkan rumput-rumput yang ada di sekitar polybag. Tenaga kerjanya saya kasih honor bulanan sampai panen,” imbuhnya.
Sedangkan untuk benih dan hasil panen, sambungnya, sudah ada yang menyediakan. “Benih ini belum komersial. Saya dapat benih dari penemu bibitnya. Sedangkan pasar sudah ada yang siap menampung karena berasnya termasuk beras organik,” ujarnya. Pemupukan tidak menggunakan pupuk kimia. Editor : Safitri