Tak hanya warga sekitar Tapen, pengunjung dari kecamatan lain hingga dari Situbondo dan Jember pun turut ambil bagian. Mereka penasaran ingin melihat tradisi flushing atau yang biasa disebut asatan di bendungan tersebut. Sebab, tradisi ini memang rutin digelar tiap tahun.
Namun, sejak 2017 hingga 2019 flushing di bendungan tersebut mandek. Baru tahun 2020 ini kembali dibuka. Tak salah jika antusiasme pengunjung makin membeludak.
Di bawah bendungan, terdapat aliran deras air bercampur lumpur warna hitam. Pengunjung tak segan menangkap ikan dengan menggunakan alat seperti serok ikan. Di pinggir-pinggir sungai, warga cukup antusias berburu ikan dengan mengandalkan keberuntungan.
Lanang, salah seorang pemancing asal Kotakulon, mengaku memang merasa terhibur saat berburu ikan di bendungan dengan air lumpur. “Kalau ikannya sih tidak seberapa ya. Sensasinya pun tidak seberapa. Tapi ya untuk hiburan. Sebab, memang ramai tiap tahunnya sudah jadi tradisi,” ucap pemuda berusia 24 tahun ini.
Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, sejak pagi kemarin, masyarakat sudah memadati area Bendungan Sampean Baru. Bahkan, jalan desa menuju lokasi pun sudah padat merayap. Para pedagang kaki lima pun memanfaatkan momen tersebut sebagai lahan dagang.
Selain tradisi berburu ikan saat momen flushing atau asatan, para pengunjung juga menjadikan momen itu sebagai tempat berburu foto instagramable. Cukup unik memang ketika pintu air bendungan dibuka untuk dikuras lumpurnya selama sepuluh hari ke depan. Terlebih, para pengunjung memanfaatkan sebagai lokasi mancing dadakan.
“Banyak pengunjungnya. Jadi, saya dan keluarga penasaran ke lokasi. Ternyata sangat ramai. Apalagi ini sudah menjadi tradisi warga setempat berburu ikan di air lumpur,” kata M. Zuyin, salah seorang pengunjung dari Bondowoso.
Hati-Hati Terseret Air Campur Lumpur
TAPEN, Radar Ijen – Ada 11 sungai dari hilir yang menuju ke Bendungan Sampean Baru. Bendungan yang selesai pengerjaannya pada tahun 1983 ini memang rutin mengadakan flushing. Sebanyak dua kali setiap tahunnya, flushing di bendungan ini dibuka. Tepatnya pada bulan Juni dan November.
“Tidak, tahun terakhir memang tidak ada flushing. Yang jelas, tiap tahun itu diadakan sebanyak dua kali. Yakni bulan keenam dan bulan 11. Ini sudah menjadi kesepakatan bersama para pihak, untuk dibuka sepuluh hari ke depan hingga 10 November,” beber Ekik Muldiyanto, pengawas utama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
Tujuan dibukanya pintu air bendungan tersebut, utamanya guna mengembalikan tampungan debit air. Serta normalisasi pola tanam dan kebutuhan pipa irigasi di Bondowoso dan Situbondo. Ada beberapa jenis pintu air yang berada di bendungan ini. Yakni pintu radial, tilting, dan bottom. Pintu radial dan tilting berguna untuk mengurangi debit air. Sedangkan bottom dibuka untuk pengurasan lumpur.
Malam harinya, semua pintu di bendungan ditutup untuk menggenangkan air bercampur lumpur. Barulah pagi hingga sore hari dibuka untuk digelontorkan air lumpurnya. “Air di Bendungan Sampean Baru ini mengalir hingga Bendungan Sampean Lama di Situbondo,” imbuh Ekik.
Mengenai antusiasme warga yang memancing ikan, pihaknya tidak kaget. Sebab, sudah tiga tahun terakhir, tradisi asatan tidak digelar. “Antusiasme warga memang cukup banyak. Mendukung sekali kegiatan flushing ini,” pungkas pria asal Mojokerto ini.
Namun, bahayanya, aliran air bercampur lumpur yang cukup deras membuat para pemancing harus ekstra hati-hati. Sebab, bila tergelincir sedikit, mereka bisa terseret arus. Apalagi, di bawah Bendungan Sampean Baru ini banyak beton-beton yang berguna sebagai pemecah arus air. Cukup bahaya apabila pemancing tak hati-hati. Editor : Safitri