Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tanam Padi di Depan Rumah, Kenapa Tidak?

Safitri • Jumat, 30 Oktober 2020 | 20:30 WIB
INOVASI: Wijaya saat sedang merawat padi yang ditanam pada polybag di depan rumahnya.
INOVASI: Wijaya saat sedang merawat padi yang ditanam pada polybag di depan rumahnya.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pekerja kantoran menanam padi? Kenapa tidak! Sebab, di era modern saat ini, menanam padi tidak harus di sawah. Bisa di depan rumah. Inilah yang dilakukan Wijaya, PNS asal Kelurahan Nangkaan. Dia membuat terobosan menanam padi di polybag di depan rumahnya.

Pria kelahiran 27 Mei 1982 ini berpikir bagaimana cara warga perkotaan dapat berkontribusi menciptakan ketahanan pangan dalam situasi keterbatasan lahan. Salah satunya dengan menanam padi di polybag. “Saya berpikir bagaimana caranya lahan yang minimalis dapat menghasilkan hasil maksimal. Maka, dipilihlah media tanam polybag ini,” ucap Wijaya di sela-sela merawat padi pada polybag-nya.

Wijaya membudidayakan padi HRD 700 ciptaan Prof Dr Ir Hariyadi MP, Direktur Pusat Kajian Pertanian Organik di Malang. Tak tanggung-tanggung, padi yang dipilihnya itu dalam 1 polybag-nya dapat menghasilkan sekitar 1 hingga 2 kilogram gabah kering sawah. Dalam 1 malai dengan panjang 40 cm, bisa menghasilkan sebanyak 700 butir padi.

Jumlah itu tentu jauh lebih banyak dibanding padi pada umumnya yang hanya dapat menghasilkan 200 bulir dalam satu malainya. “Ukuran polybag ini 40x40 cm. Satu meter persegi lahan berisi 9 polybag, yang mana potensi hasil panennya bisa sampai 14 hingga 18 kilogram gabah kering sawah,” ujarnya.

Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor, Wijaya rutin menyiram satu per satu padi di polybag-nya. Sepulang kerja, aktivitas menyiram kembali dilakukan. Setiap lima hari sekali, dia beri pupuk dan antibakteri juga antifungi agar terhindar dari hama. “Perawatannya sangat sederhana. Cukup siram saat pagi dan sore, dan pupuk setiap lima hari sekali,” jelasnya.

Lahan yang dimanfaatkannya untuk menampung polybag lokasinya terpencar. Ada yang ditempatkan di halaman rumah, lahan samping rumah yang biasa dibuat untuk menjemur pakaian, dan beberapa halaman milik tetangga. “Ini kan tempat tanamnya berbeda-beda. Pekarangan yang tidak terurus dan tidak produktif saya manfaatkan. Bahkan, pekarangan kosong milik tetangga yang kondisinya sama, saya sewa untuk pertanian padi polybag,” terangnya.

Kini, Wijaya memiliki 8.000 polybag dengan total luas lahan 1.000 meter persegi. Diperkirakan, ketika sudah panen akan menghasilkan 8 hingga 10 ton gabah kering sawah. Saat ini, Wijaya juga tengah mengembangkan pertanian padi polybag di Tanian Lanjheng Pejaten serta lahan pekarangan di Karang Anyar. “Jumlah itu sama dengan hasil panen padi biasa yang ditanam secara konvensional di sawah dengan luas 1 hektare,” pungkasnya.

Foto: ABROR Editor : Safitri