Lokasi PIMB cukup strategis dan mudah dijangkau. Berada di dekat jalan provinsi Jember-Bondowoso. Dari jalan utama hanya sekitar 500 meter. Letaknya setelah dua pabrik pengolahan plywood. Pada area PIMB, ada bebatuan yang terletak di area terbuka, dan ada yang diletakkan di bangunan tertutup. Semaunya merupakan peninggalan prasejarah.
Kasi Sejarah Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Bondowoso Hery Kusdariyanto mengatakan, hingga saat ini Bondowoso belum punya museum megalitikum. Padahal, sebagai pusat megalitikum, sedianya ada museum yang menyajikan benda-benda purbakala. “Kalau museum di Bondowoso ada, yaitu museum kereta api. Tapi yang purbakala belum ada,” jelasnya.
Dijelaskannya, PIMB selama ini hanya sebagai pusat informasi. Tidak sebagai museum. Namun, kerap ada tawaran untuk mengembangkan sebagai museum. Dari itu, pihaknya pernah mengajukan tempat itu sebagai museum. Namun, ada beberapa syarat yang belum memenuhi untuk ditingkatkan menjadi museum. “Kendalanya itu luasannya kurang. Setidaknya kurang tiga hektare lagi,” jelasnya.
Untuk dijadikan museum, harus memperhitungkan lahan parkir dan lahan untuk melengkapi koleksi museum. Karenanya, harus ada lahan tambahan yang harus disiapkan pemkab.
Hery mengaku, adanya ide pembuatan museum, baik terbuka maupun tertutup, sudah muncul sebelum adanya pembangunan PIMB. “Awal rencananya itu di EDC yang kini menjadi kampus Unej Bondowoso. Karena tanah itu akan dihibahkan ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), maka pembangunan dialihkan ke Pekauman yang sekarang jadi PIMB,” ungkapnya.
Menurut Hery, seandainya waktu itu pendidikan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) seperti sekarang dan bukan Kemenristek, mungkin bisa jadi sebagian lahan EDC dijadikan museum purbakala. “Karena dalam satu kementerian, mungkin bisa juga. Karena purbakala dan sejarah itu di bawah Kemendikbud,” tuturnya. Editor : Safitri