Penelusuran Jawa Pos Radar Ijen, Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso merilis, populasi sapi potong di Bondowoso pada 2018 sebanyak 224.917 ekor. Berikutnya, pada 2019 bertambah menjadi 228.445 ekor. Sementara itu, untuk sapi perah berdasarkan data BPS tersebut justru semakin turun dari tahun ke tahun. Pada 2018 ada 19 ekor, sedangkan 2019 hanya 13 ekor.
Kabid Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Bondowoso drh Cendy Herdiawan mengatakan, jumlah populasi ternak, khususnya sapi potong, di Bondowoso cukup tinggi. Bahkan, Bondowoso termasuk deretan daerah penyumbang daging tertinggi di Jatim. Sayangnya, untuk sapi perah jumlahnya sangat rendah. “Padahal potensinya besar,” terangnya.
Sebagai dokter hewan, drh Cendy menambahkan, Bondowoso merupakan daerah yang sangat tepat untuk pengembangan sapi perah. Sebab, banyak dataran tingginya. Terdiri atas tiga gunung, yakni Argopuro, Raung, dan Ijen. “Iklimnya sejuk dan cocok untuk mengembangbiakkan sapi perah,” ujarnya. Selain itu, Bondowoso basisnya adalah pertanian. Untuk mencari pakan dari alam juga cukup mudah.
Berdasarkan analisisnya, ketertarikan masyarakat Bondowoso untuk mengembangkan sapi perah masih rendah. Sebab, SDM peternak Bondowoso masih rendah. “Karena memelihara sapi perah itu lebih sulit dan ribet daripada sapi potong,” tuturnya.
Padahal, secara ekonomis, memelihara sapi perah lebih menguntungkan daripada sapi pedaging. “Mendapatkan susu dan daging bila sapi perah. Tapi sapi perah yang dijadikan pedaging, biasanya yang usianya tua dan tidak produktif lagi,” tuturnya.
Dijelaskannya, peternak sapi potong mendapatkan penghasilan setelah menjual sapinya. Sedangkan sapi perah bisa mendapatkan penghasilan harian dari susu. Bahkan, keberadaan sapi perah bisa dijadikan wisata edukasi untuk sekolah.
Perawatan sapi perah lebih susah, karena harus bersih dan dimandikan setiap hari. Pakan pun harus teratur dan memilih. “Pakan berubah sedikit bisa stres. Jika stres, produksi susu akan turun,” terangnya.
Sementara itu, peternak sapi perah dari Jember, Nyoman Aribowo mengatakan, antara sapi perah dengan daging untungnya lebih besar perah. “Tiap hari per satu ekor sapi bisa menghasilkan 10 liter. Harga per liter enam ribu, pakan maksimal per ekor dalam setiap hari Rp 25 ribu. Jadi untungnya Rp 35 ribu per hari untuk satu ekor sapi perah,” jelasnya.
Dia mengatakan, kendala mengapa di daerah Jember dan Bondowoso banyak memilih sapi potong, karena banyak persepsi susunya tidak menemukan pasar. “Tiap hari susu keluar, selanjutnya mau diapakan,” terangnya.
Selain itu, peternak sapi perah harus punya manajemen. “Manajemen yang dilakukan sedikit saja gak masalah, tapi pencatatan wajib dilakukan,” terangnya. Bila ingin menggairahkan peternak sapi perah, menurut Nyoman, butuh stimulus dulu dari pemerintah. “Saya yakin setelah ada stimulus dari pemerintah, peternak akan jalan. Tapi harus bekerja sama antarpeternak sapi perah,” terangnya.
Jika berkaitan dengan pasar, dia mencontohkan, satu perusahaan susu Nestle saja, setiap hari membutuhkan 700 ribu – satu juta liter setiap hari. Sehingga butuh banyak pasokan susu. Editor : Safitri