Transisi ini disebut, izinnya telah keluar. Selanjutnya akan disiapkan untuk proses pembangunan berikut berbagai kesiapan sumber daya manusia.
Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsis) Jawa Timur, M. Nuh, saat melakukan peninjauan ke Klinik RSNU kemarin menerangkan, transisi ini dinilainya sangat tepat. Karena salah satu yang dihadapi oleh bangsa ini adalah layanan kesehatan.
Untuk itulah, mantan Menteri Pendidikan era Presiden SBY ini menyebut, ada empat hal yang harus dilalui. Di antaranya, yakni aspek perizinan, fisik, atau kesiapan bangunan. Termasuk, fasilitas alat kesehatan dan sumber daya manusia.
"Manajemennya harus berubah lagi. Dikembangkan lagi. Karena beda manajemen klinik dengan rumah sakit. Karena ini juga akan dikawinkan lagi dengan BPJS, asuransi-asuransi. Sekalian IT-nya," kata M. Nuh.
Dia mengharapkan Rumah Sakit Ibu dan Anak ini juga bisa menjadi rumah sakit modern. Mulai dari tata kelola, dan dokter-dokternya. Sehingga, nantinya pun turut bisa memberikan pelayanan kabupaten lainnya. "Sehingga di sini nantinya menjadi daerah jembatan," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Transisi Alih Status Klinik NU menjadi RS NU, Ahmad Dhafir mengatakan, pihaknya akan mengorganisasi kembali rumah sakit tersebut.
Salah satunya melakukan pengembangan gedung rumah sakit di lahan sekitar 2 hektare. Di sisi lain, pihaknya juga akan memberikan subsidi kepada tenaga medis selama satu tahun sebagai upaya membangkitkan kembali rumah sakit tersebut.
"Yayasan dan beberapa pengurus akan menyubsidi gaji para tenaga medis selama satu tahun, mulai bulan ini," kata Ketua DPRD ini.
Ia menerangkan, izin Rumah Sakit Ibu dan Anak telah terbit. Makanya, RSNU itu sudah boleh berpraktik. "Kami selaku tim transisi ini menyiapkan infrastruktur dan semua tenaga medis untuk segera start," pungkasnya. Editor : Safitri