RADAR JEMBER - Ada luka yang tak terlihat, tetapi terasa setiap kali langkah kembali menuju panggung Eropa.
Bagi Inter Milan, kekalahan menyakitkan dari Paris Saint-Germain di final Liga Champions di Munchen tampaknya belum sepenuhnya menjadi masa lalu.
Dua pertandingan, dua kekalahan. Awal perjalanan Nerazzurri di Liga Champions musim ini justru menghadirkan bayang-bayang kegagalan yang belum sirna. Seperti dilaporkan La Gazzetta dello Sport, beban masa lalu diduga masih membekas di benak para pemain.
Saat menghadapi Club Brugge, Inter terlihat kehilangan ketenangan. Keputusan diambil terlalu terburu-buru, kesalahan individual bermunculan, dan tekanan perlahan menggerogoti keseimbangan permainan.
Baca Juga: De Roon Cetak Gol ke Gawang Real Madrid, Pecahkan Rekor Pemain Asing Tertua AS Roma
Cristian Chivu kini menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar meracik taktik. Ia harus membangkitkan kembali kepercayaan diri tim yang seolah masih berjalan dengan luka dari malam kelam di Munchen.
Dengan enam pertandingan tersisa, Inter diperkirakan membutuhkan lima kemenangan dan satu hasil imbang untuk mencapai target 16 poin demi lolos langsung ke babak 16 besar.
Sebab, terkadang musuh terbesar bukanlah lawan yang berdiri di seberang lapangan, melainkan kenangan pahit yang masih bersemayam di dalam kepala.
Inter harus belajar melepaskan bayang-bayang masa lalu, menemukan kemba li keberaniannya, dan membuktikan bahwa luka di Munchen bukanlah akhir dari mimpi mereka di Eropa.
Editor : M. Ainul Budi