RADAR JEMBER - Juventus kembali membawa pulang satu poin yang menyisakan rasa ganjal dan penyesalan usai bertandang ke markas Cagliari.
Skuad asuhan Luciano Spalletti berhasil menunjukkan karakter pantang menyerah dengan mengejar ketertinggalan lewat gol Randal Kolo Muani yang membalas keunggulan awal tuan rumah lewat Daniel Maldini.
Kendati demikian, hasil imbang 1-1 ini menegaskan masalah berulang yang tengah membayangi Bianconeri: mampu bereaksi saat tertinggal, namun kerap gagal menuntaskan pembalikan keadaan menjadi sebuah kemenangan.
Pada laga melawan Cagliari, Juventus sejatinya memiliki sederet peluang emas untuk mengunci tiga poin penuh. Nico González sempat menyia-nyiakan peluang matang di babak pertama, sementara sundulan Kolo Muani di babak kedua harus membentur mistar gawang.
Baca Juga: Bisseck Kecewa Berat Usai Inter Milan Kebobolan 4 Gol Kontra Brugge
Bagi klub yang berambisi bersaing di papan atas Serie A, sekadar menyamakan kedudukan tidak boleh dianggap sebagai pencapaian yang memuaskan.
Ada perbedaan besar antara tim yang hanya mampu menghindari kekalahan dan tim juara yang konsisten menemukan cara untuk menang.
Untuk mengubah Juventus dari tim yang sekadar “pantang menyerah” menjadi mesin pemenang, Luciano Spalletti dituntut untuk segera mengevaluasi tiga aspek krusial:
1. Kehadiran di Kotak Penalti (Offensive Presence):
Beban mencetak gol tidak bisa hanya ditumpukan kepada Kolo Muani seorang. Para pemain sayap (wingers) dan gelandang tengah harus lebih aktif masuk ke area penalti untuk memberikan ancaman konkrit.
2. Kecepatan Alur Bola (Speed of Play):
Saat menghadapi lawan yang menumpuk pemain di lini belakang, penguasaan bola yang terlalu lambat hanya akan memudahkan pertahanan lawan untuk merapat dan menutup ruang.
3. Manajemen Emosi Usai Gol Penyeimbang:
Momentum terbaik untuk membalikkan keadaan adalah sesaat setelah berhasil mencetak gol penyeimbang. Juventus sering kali kehilangan ketenangan (lucidità) atau justru terlalu terbuka sehingga rawan terkena serangan balik.
Editor : M. Ainul Budi