RADAR JEMBER - Kekalahan Juventus dari Sassuolo di pekan ke-4 Serie A 2026-27 bukan semata-mata persoalan hasil akhir. Yang lebih mengkhawatirkan adalah cara Bianconeri kehilangan kendali ketika pertandingan memasuki fase paling menentukan.
Setelah dua kali tertinggal, Juventus berhasil menunjukkan karakter luar biasa untuk menyamakan kedudukan. Bahkan pada menit ke-92, gol Edon Zhegrova membuat skor berubah menjadi 2-2 dan comeback yang nyaris mustahil seolah telah sempurna.
Dalam situasi seperti itu, sebuah tim besar seharusnya tahu bagaimana mengendalikan pertandingan.
Baca Juga: Gaya Baru Komunikasi Ruben Amorim di AC Milan Jadi Sorotan, Kenapa?
Harus ada pemain yang mengambil bola, memperlambat tempo, meminta rekan-rekannya bernapas, lalu mengatakan: “Sekarang cukup.”
Namun, tidak ada sosok tersebut di Juventus.
Dan dari Mapei Stadium, muncul satu pertanyaan besar: siapa sebenarnya pemimpin Juventus ketika pertandingan keluar dari jalurnya?
Juventus jelas memiliki karakter. Mereka dua kali tertinggal dan dua kali pula mampu menyamakan kedudukan. Tim yang tidak memiliki mentalitas tidak akan mampu terus bangkit dalam situasi seperti itu.
Baca Juga: Pelatih Udinese Sebut Inter Milan Sudah Berada di Level yang Berbeda
Namun, kepribadian sebuah tim tidak hanya terlihat ketika harus mengejar ketertinggalan.
Kepribadian juga diuji ketika harus mengetahui kapan menyerang dan kapan berhenti.
Setelah Zhegrova mencetak gol penyeimbang pada menit ke-92, Juventus seharusnya menyadari bahwa satu poin bisa menjadi hasil yang sangat berharga setelah dua kali berada dalam posisi tertinggal.
Sebaliknya, Bianconeri justru bermain seolah-olah mereka sedang tertinggal dan harus mencetak gol kemenangan dalam hitungan detik.
Garis pertahanan terbuka. Banyak pemain bergerak terlalu jauh ke depan. Struktur tim menjadi berantakan.
Tidak ada yang mengambil alih kendali. Luciano Spalletti sendiri mengakui bahwa ia memang mendorong para pemain untuk mencoba memenangkan pertandingan.
“Saya memotivasi para pemain dan mereka terlalu mengambil perkataan saya secara harfiah,” ujar Spalletti.
Pernyataan tersebut menggambarkan sebuah persoalan penting.
Instruksi pelatih tentu harus dihormati. Tetapi pemain di lapangan juga harus memiliki kemampuan membaca pertandingan secara mandiri.
Pelatih bisa meminta tim terus menyerang. Namun, ketika menit menunjukkan angka 92 dan baru saja mencetak gol 2-2 setelah dua kali tertinggal, situasi pertandingan berubah.
Editor : M. Ainul Budi