Dituding Sukses Cuma Berkat Modal Uang Djarum Group, Cesc Fabregas Buka-bukaan Bawa Como ke Liga Champions

Imron Hidayatullahh • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 17:26 WIB
Cesc Fabregas
Cesc Fabregas

Radar Jember - Cesc Fabregas menjawab langsung tudingan yang menyebut lonjakan prestasi Como lebih dipengaruhi kucuran dana melimpah dari pemilik asal Indonesia ketimbang kualitas taktik kepelatihannya.

Menurut juru taktik asal Spanyol tersebut, nominal belanja bukanlah tolok ukur yang tepat untuk menilai sebuah keberhasilan.

Bicara kepada majalah La Gazzetta dello Sport, Fabregas membeberkan kunci kesuksesannya menyulap Como dari tim Serie B hingga sukses menembus panggung Liga Champions hanya dalam kurun waktu tiga tahun.

Baca Juga: Gasperini Bongkar Borok Bursa Transfer AS Roma Usai Laga Sengit Kontra Brighton!

Sebagaimana diketahui, Como hingga saat ini berada di bawah kepemilikan Djarum Group melalui perusahaan investasi SENT Entertainment yang berbasis di London. 

Faktor kepemilikan konglomerat Indonesia inilah yang membuat dinamika klub kecil dari tepian Danau Lombardia tersebut selalu menarik perhatian publik Tanah Air.

Bandingkan dengan Kerapuhan PSG dan Arsenal

Fabregas tidak menampik bahwa klubnya merogoh kocek untuk mendatangkan pemain. Namun, ia menekankan perbandingan rasional di industri sepak bola modern.

"Benar bahwa Como mengeluarkan uang, tetapi pertumbuhan klub ini berjalan dengan kecepatan yang terus terang belum pernah terjadi sebelumnya," katanya.

Baca Juga: Evaluasi Gunung Piramid Harus Dikuatkan, Disparbudpora Bondowoso Dorong Duduk Bersama dan Siapkan Pengelolaan Aman

Guna memperkuat argumentasinya, mantan penggawa Timnas Spanyol ini membandingkan capaian Como dengan dua raksasa Eropa.

"Paris Saint-Germain menghabiskan ratusan juta dan menunggu 15 tahun sebelum memenangi Liga Champions, sementara Arsenal harus menunggu tujuh tahun untuk juara Premier League. Saya tidak melihat berapa uang yang dibelanjakan, melainkan bagaimana mengeluarkan yang terbaik dari skuad dan tiap individu," tegas Fabregas.

Fabregas turut menyodorkan fakta menarik terkait alokasi anggaran tim yang selama ini jarang tersingkap ke publik. "Adil juga untuk mengatakan bahwa tagihan gaji kami tidak besar. Ada delapan atau sembilan tim di liga ini dengan pengeluaran gaji lebih tinggi daripada kami," ungkapnya.

Data tersebut membuktikan bahwa dari total 20 kontestan Serie A, besaran anggaran gaji Como bahkan tidak masuk dalam sepuluh besar.

Setia di Como, Tolak Empat Raksasa Italia

Keberhasilan fenomenal mengantar Como melesat drastis membuat nama Fabregas menjadi komoditas panas di bursa pelatih. Dalam 12 bulan terakhir, raksasa Serie A seperti Inter Milan, AC Milan, Napoli, hingga AS Roma dilaporkan telah mendekatinya secara intensif.

Baca Juga: Sang Agen Pernah Tawarkan Rafael Leao ke Leeds United, Respons Klub Premier League Ini Bikin Syok!

Namun, seluruh tawaran menggiurkan dari empat klub papan atas tersebut mentah-mentah ditolaknya. "Ketika saya membuat keputusan, saya tidak mengubahnya, jadi saya memang tidak mungkin meninggalkan Como," ujarnya.

Ia membeberkan alasannya tetap bersedia membuka ruang diskusi dengan klub-klub pelamar tersebut. "Saya sangat jelas kepada Presiden saya. Saya mendengarkan pihak lain sebagai bentuk penghormatan, karena itu juga memberi saya kesempatan menjelaskan alasan saya," lanjutnya.

Investasi Nico Paz dan Perbandingannya dengan Kaka

Salah satu bukti kejelian investasi Como adalah keberhasilan menebus sisa 50 persen kepemilikan Nico Paz dari Real Madrid, meskipun El Real tetap memegang klausul buyback.

Baca Juga: Netizen Ramai Minta Shin Tae-yong Kembali Tukangi Timnas Garuda, Presiden Persija Buka Suara Soal Kontrak!

Pemain muda berusia 21 tahun itu kerap digadang-gadang memiliki kemiripan dengan legenda AC Milan, Kaka. Fabregas pun mengamini adanya kemiripan sekaligus perbedaannya.

"Kaka sedikit lebih eksplosif. Dia punya dorongan ke depan yang, seperti Andres Iniesta, tidak bisa dihentikan. Begitu dia mulai berlari, kau tidak bisa mengejarnya kembali," kata Fabregas.

"Nico sedikit lebih fisik, lebih posisional, lebih statis, tetapi dia tahu cara menggunakan tubuhnya dengan cara berbeda dari yang lain."

Meski memiliki karakter berbeda, Fabregas memberikan penilaian yang sangat tinggi terhadap prospek masa depan Paz. "Nico Paz punya segalanya, fisik dan kualitas. Nico punya keberanian, visi, dan ambisi yang luar biasa. Dia berusia 21 tahun, tetapi rasanya seperti sudah bermain selama satu dekade."

Fabregas menerapkan kedisiplinan dan standar tinggi dalam membentuk mentalitas para pemain mudanya.

"Ketika saya berbicara dengannya, saya mencoba memahami seberapa besar keinginannya mencapai puncak. Kalau saya menoleh ke arahnya dan dia melihat ke arah lain, itulah saatnya melepaskannya," tegasnya. 

"Seperti semua pemain muda, kau perlu terus mendorongnya, membantu mengembangkan pribadinya sekaligus pemainnya. Begitulah cara menciptakan pemain yang bisa masuk ke Juventus, Inter, atau Real Madrid."

Baca Juga: Pemain Muda Inter Milan Ini Curi Perhatian Publik? Media Italia Sebut Punya Potensi Besar

Pemain Terbaik Serie A dan Warisan Taktik Mourinho-Conte

Saat diminta menunjuk siapa pemain terbaik di panggung Serie A saat ini, pilihan Fabregas jatuh pada kapten Inter Milan sekaligus Capocannoniere, Lautaro Martinez. Ia menilai striker asal Argentina tersebut sebagai puncak performa sepak bola Italia saat ini.

Sebagai mantan pemain top, ilmu kepelatihan Fabregas juga banyak diserap dari deretan manajer kelas dunia yang pernah menanganinya, terutama Jose Mourinho dan Antonio Conte.

"Mourinho bermain dengan pikiran saya. Dia akan melakukan sesuatu kepada saya sambil tahu betul hal itu tidak akan berhasil pada pemain lain. Dia sangat cerdas," kenangnya.

"Conte juga pelatih yang tidak membiarkan siapa pun menganggap sesuatu sudah pasti. Setiap pemain diperlakukan dengan cara yang sama. Dia punya visi yang kuat," pungkas Fabregas.

Editor : Imron Hidayatullahh
djarum group como fabregas Liga Champhions