Terancam Lengser dari FIFA! Trump Nekat Lakukan Ini demi Selamatkan Infantino dari Desakan Mundur!

Imron Hidayatullahh • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 15:20 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri), bersama Presiden FIFA, Gianni Infantino. Trump dikabarkan menginginkan Infantino jadi Sekjen PBB. (instagram/gianni_infantino)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri), bersama Presiden FIFA, Gianni Infantino. Trump pasang badan untuk Infantino. (instagram/gianni_infantino)

Radar Jember - Presiden Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan siap pasang badan demi mempertahankan Gianni Infantino di kursi Presiden FIFA. Langkah ini diambil saat gelombang desakan agar Infantino mundur makin deras mengalir.

Dukungan Trump mencuat usai rencana kontroversial Infantino—menjual saham aset komersial Piala Dunia ke investor swasta—gagal total hingga memicu ‘pemberontakan’ dari deretan federasi sepak bola dunia.

Trump menganggap Infantino sangat berjasa bagi AS karena dinilai sukses menggelar Piala Dunia.

Baca Juga: Taktik Baru Ruben Amorim: Pertahankan Fofana Hingga Sulap Loftus-Cheek Demi Solusi Lini Tengah AC Milan

Trump Menilai Infantino Sosok Loyal dan Berjasa

Dilansir dari The Telegraph, Selasa (4/8/2026), seorang pejabat senior pemerintahan AS membeberkan kedekatan hubungan keduanya. Menurutnya, Trump ingin Infantino tetap memimpin induk organisasi sepak bola dunia tersebut.

"Gianni banyak membantu kami menghadirkan Piala Dunia terbaik. Presiden sangat menyukainya. Saya yakin presiden akan melakukan segala yang mungkin untuk membantunya," ungkap sumber tersebut.

Sumber itu menambahkan bahwa Trump tak akan menggoyahkan dukungannya lantaran memandang bos FIFA tersebut sebagai figur yang setia. "Gianni benar-benar mewujudkan Piala Dunia untuk Amerika Serikat. Kami menghargai itu," tuturnya.

Keakraban Trump dan Infantino memang terus terjalin erat dalam beberapa tahun terakhir. Saat awal bertemu pada Agustus 2018, Infantino sempat berseloroh membawa kartu merah dan kuning, sembari menyebut kartu itu bisa dipakai Trump saat berhadapan dengan awak media.

Pada pengundian Piala Dunia Desember lalu, Infantino turut menyerahkan FIFA Peace Prize berupa trofi emas berukir nama sang presiden beserta medali peringatan. Bahkan sebelum skandal ini pecah, Trump dikabarkan sempat menginginkan Infantino menduduki posisi Sekretaris Jenderal PBB.

Baca Juga: Mourinho Setuju! Rodri Hanya Ingin Pakai Seragam Putih Real Madrid, Barcelona Gigit Jari!

Buntut Rencana Penjualan Saham senilai Rp 360 Triliun

Infantino kini berada dalam tekanan hebat setelah meluncurkan proposal privatisasi Piala Dunia dan turnamen FIFA lainnya bernilai 20 miliar dollar AS (setara Rp 360 triliun).

Proposal bernilai fantastis itu akhirnya resmi ditarik pada Jumat (31/7/2026) akibat perlawanan sengit dari berbagai federasi, terutama Uni Sepak Bola Eropa (UEFA).

Sempat beredar rumor bahwa Infantino akan menemui pejabat kabinet Trump, termasuk Menlu AS Marco Rubio, guna mengamankan posisinya. Namun, isu tersebut dibantah tegas oleh pihak FIFA maupun Departemen Luar Negeri AS.

Di sisi lain, New York Post mengabarkan Infantino sempat berupaya menelepon Trump pasca-kegagalan rencana tersebut, tetapi tidak terhubung. Trump sendiri menegaskan pada Jumat bahwa dirinya belum pernah berbicara dengan Infantino soal kemelut ini.

Pembelaan justru datang dari Utusan Khusus AS untuk Kemitraan Global, Paolo Zampolli. Ia menyebut rekam jejak Presiden FIFA bukan untuk menguntungkan kelompok elite, melainkan demi membuka kesempatan berkembang bagi lebih banyak negara, komunitas, dan anak-anak dalam cabang olahraga ini.

Zampolli juga menganggap langkah Infantino membatalkan proposal tersebut sudah tepat karena mau mendengarkan aspirasi publik.

Baca Juga: Begini Persiapan Manchester United Jelang Kontra PSG, Pemain Bintangnya Sudah Kumpul Semua?

Gelombang 'Pemberontakan' Lengserkan Infantino Makin Meluas

Meski proposal sudah ditarik, upaya menggulingkan Infantino justru kian masif. The Telegraph menyebut Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) kini mengambil peran sentral membangun koalisi internasional bersama UEFA setelah resmi mencabut dukungannya.

FA bahkan berencana melayangkan surat resmi guna membatalkan dukungan atas pencalonan kembali Infantino sebagai Presiden FIFA periode 2027–2031.

UEFA juga gencar melobi federasi di kawasan Afrika dan Asia. Kedua wilayah ini memegang peranan kunci dengan total sekitar 100 federasi pemilik hak suara (hampir separuh dari total anggota FIFA).

Meski begitu, belum ada satu pun federasi Afrika atau Asia yang terang-terangan menuntut Infantino mundur. Maroko, Qatar, Sri Lanka, dan Lebanon bahkan menyuarakan dukungan.

Baca Juga: Christian Pulisic Ambil Keputusan Final, Pintu Keluar AC Milan Resmi Tertutup Rapat!

Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) tak menolak proposal jual aset tersebut, sementara Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menolak jalurnya tetapi belum menuntut Infantino mundur.

Pemberontakan ini dipelopori oleh UEFA yang sebelumnya sempat mengancam memboikot ajang FIFA jika aksi privatisasi diteruskan. Pencabutan proposal pun tak lantas meredakan gelombang kritik.

Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW) menyusul mencabut dukungannya untuk periode 2027–2031. FAW menegaskan Infantino telah gagal dalam tata kelola, kepemimpinan, komunikasi, serta pengambilan keputusan, sehingga kehilangan kepercayaan untuk memimpin sepak bola internasional.

UEFA mengutuk keras skema yang dianggap dirancang tertutup dan terburu-buru tersebut, seraya berjanji mendorong reformasi tata kelola organisasi.

Jejak Inggris dan Wales kini diikutsertakan oleh deretan federasi negara besar lainnya seperti Belanda, Jerman, Norwegia, dan Swedia yang menyatakan menolak kepemimpinan Infantino.

 

Editor : Imron Hidayatullahh
presiden fifa FIFA donald trump gianni infantino