Radar Jember - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tampaknya harus berlapang dada menerima kekalahan telak tim nasionalnya. Langkah The Yanks resmi terhenti di babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah dilumat Belgia dengan skor mencolok 1-4.
Sebelum duel di Stadion Seattle pada Selasa kemarin itu dimulai, Trump sempat memicu kegemparan global. Ia kedapatan menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara langsung guna melobi peninjauan kartu merah yang diterima striker andalannya, Folarin Balogun.
Secara kontroversial, FIFA kemudian mengaktifkan Pasal 27 untuk menangguhkan hukuman larangan bertanding Balogun selama satu tahun.
Kebijakan ini menyulut gelombang protes keras dari pencinta sepak bola dunia. Kendati penyerang AS Monaco itu akhirnya bisa bermain berkat intervensi Gedung Putih, kehadirannya tetap gagal menyelamatkan AS dari amukan Belgia.
Gedung Putih Buka Suara Soal Kontroversi
Gedung Putih sendiri bersikukuh membela langkah mereka mencampuri sanksi kartu merah Balogun yang didapat saat laga kontra Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar.
Direktur Eksekutif Satuan Tugas Piala Dunia Gedung Putih, Andrew Giuliani, tidak menampik jika polemik ini sempat mengusik fokus anak asuh Mauricio Pochettino. Namun, ia memastikan Trump berjiwa besar menerima hasil akhir.
"Jelas beliau kecewa dengan kekalahan itu. Namun, seperti yang ia katakan beberapa jam sebelum pertandingan, Belgia tampil dengan skuad terbaiknya, begitu pula Amerika Serikat. Siapa pun yang menang, Anda harus memberikan penghormatan kepada mereka. Saya tahu Presiden juga menghormati Belgia dan tetap bangga dengan tim Amerika Serikat," kata Giuliani dinukil dari Daily Mail.
Skuad Belgia Ejek Trump Lewat Tarian dan Cuitan Menohok
Suhu pertandingan kian memanas setelah para pemain Belgia kedapatan mengejek Trump. Usai Romelu Lukaku mencatatkan namanya di papan skor, penggawa Belgia merayakan gol dengan menirukan gerakan tarian khas presiden berusia 80 tahun tersebut.
Ketegangan berlanjut di media sosial setelah akun X resmi timnas Belgia mengunggah pesan provokatif: "Overturn that" (sekarang, coba batalkan ini).
Menanggapi fenomena tersebut, juru bicara pemerintah Iran turut menyentil, "Seluruh dunia menari merayakan kekalahan memalukan politik dari sepak bola," ujarnya.
Giuliani memilih bungkam terkait respons Iran, tetapi ia menanggapi aksi selebrasi menyindir dari skuad Belgia dengan nada kelakar.
"Saya tidak akan mengomentari Iran. Soal tarian Belgia, saya rasa Presiden Trump melakukannya lebih baik. Saya pikir beliau penari yang lebih baik," kata Giuliani.
Ia pun berjiwa besar mengakui keunggulan strategi lawan di atas lapangan. "Belgia tim yang lebih baik. Mereka bermain lebih cepat dan lebih kuat. Penampilan mereka sangat mengesankan. Tentu saja, saya yakin tim Amerika Serikat berharap bisa mengulang hari itu," ujarnya.
Respons Dingin Perdana Menteri Belgia di KTT NATO
Di panggung politik, Perdana Menteri Belgia, Bart De Wever, menegaskan tidak akan mengungkit kekalahan memalukan Amerika Serikat saat bersua Trump di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO mendatang, sebagaimana dilalansir dari Give Me Sport.
Kendati demikian, ia siap membalas jika sang presiden yang memulai pembicaraan. "Semua orang membicarakan kemenangan yang pantas diraih Red Devils. Tentu saja, pihak yang kalah juga hadir, dan mereka adalah mitra terbesar kami di NATO. Saya tidak akan memulai pembicaraan mengenai hal itu.," katanya.
"Tetapi, jika Trump mengatakan sesuatu tentang pertandingan itu, saya akan melihat apa yang ia katakan dan bagaimana saya akan menanggapinya," pungkas De Wever.
Editor : Imron Hidayatullahh