Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Inggris dan Kutukan 8 Besar: Antara Mimpi Juara dan Stempel Spesialis Perempat Final

M Adhi Surya • Rabu, 8 Juli 2026 | 22:14 WIB
Ilustrasi Perjalanan England di Pildun
Ilustrasi Perjalanan England di Pildun

Radar Jember - Inggris selalu punya cara unik untuk mematahkan hati pendukungnya. Setiap empat tahun sekali, optimisme membuncah, bendera St George’s Cross berkibar di seluruh penjuru negeri, dan lagu It’s Coming Home diputar dengan penuh percaya diri. 

Namun, di ujung jalan, The Three Lions justru sering terjebak dalam labirin yang sama: tembok tebal bernama perempat final.

Sejarah mencatat, fase delapan besar bukanlah sekadar angka bagi Inggris. Ia telah menjelma menjadi "kuburan" bagi ambisi generasi emas yang silih berganti. 

Baca Juga: Diskoperindag Bondowoso Akui Siap Tindaklanjuti Evaluasi DPRD, Fokus Dampak Nyata Program

Mulai dari kekalahan pahit melawan Brasil pada 2002, drama adu penalti melawan Portugal di 2006, hingga langkah yang terhenti di tangan Prancis pada edisi 2022, perempat final adalah garis batas yang seolah mustahil mereka lewati dengan mulus.

Ironisnya, kegagalan ini terus berulang di saat Inggris memiliki segalanya. Mereka memiliki liga paling kompetitif di dunia, Premier League, yang menyuplai pemain-pemain kelas wahid dengan gaji selangit. 

Namun, kemilau talenta di level klub seolah meredup seketika saat mereka mengenakan seragam tim nasional di turnamen mayor. 

Baca Juga: Ketua Komisi II DPRD Bondowoso: Distribusi Sektor Subsidi Disorot, Dorong Perlindungan UMKM dan Pedagang

Ekspektasi tinggi publik Inggris kerap kali menjadi beban yang justru melumpuhkan kaki para pemain di lapangan.

Banyak pengamat sepak bola di sana menyebutnya sebagai masalah mentalitas. Di babak penyisihan hingga 16 besar, Inggris sering terlihat perkasa. 

Namun, begitu menginjak perempat final saat bertemu lawan yang memiliki "DNA juara" atau tim yang secara psikologis lebih stabil kepercayaan diri mereka sering retak. Kesalahan individu kecil, yang jarang terjadi di level klub, tiba-tiba muncul di momen krusial.

Inggris memang bukan tim yang buruk. Sebaliknya, mereka adalah tim yang sangat konsisten. Mencapai delapan besar adalah bukti bahwa Harry Kane dkk. berada di jajaran elite sepak bola dunia. 

Namun, dalam kamus sepak bola, "hampir sampai" bukanlah sebuah pencapaian yang membanggakan bagi bangsa yang mengklaim diri sebagai rumah sepak bola dunia. 

Konsistensi di perempat final justru mulai dianggap sebagai stempel medioker bagi tim berkaliber bintang. Secara teknis, Inggris sering terjebak dalam kebuntuan taktikal. 

Ketika strategi utama mereka macet, sulit bagi tim ini untuk menemukan Plan B yang efektif. Seringkali, mereka terlihat "takut menang". 

Baca Juga: Akhirnya Cair! Honor 2.880 Guru PAUD di Bondowoso Dibayarkan

Ada rasa waswas yang tertanam dalam benak para pemain bahwa satu kesalahan saja akan berujung pada kritik pedas media domestik yang tidak kenal ampun. 

Tekanan itu nyata, dan itu sering membuat mereka bermain lebih aman daripada semestinya. Menatap masa depan, pertanyaannya tetap sama: kapan kutukan ini akan pecah? Regenerasi pemain terus berjalan, taktikal diperbarui, dan pelatih berganti, namun noda di perempat final masih belum terhapus. 

Bagi Inggris, tantangan terbesar mereka saat ini bukanlah mencari pemain hebat, melainkan mencari keberanian untuk melampaui batas psikologis yang telah membelenggu mereka selama puluhan tahun.

Baca Juga: Wajib Catat Bagan dan Jadwal Lengkap Perempat Final Piala Dunia 2026: Jalan Argentina Lebih Diuntungkan?

Pada akhirnya, Inggris tetaplah tim yang akan selalu dinanti di setiap turnamen. Mereka punya daya tarik, punya drama, dan punya harapan. 

Namun, jika tembok 8 besar itu tidak segera diruntuhkan, status sebagai "langganan perempat final" akan terus melekat. (dhi)

Editor : M ADHI SURYA
#St George’s Cross #The Three Lions #inggris #Piala dunia #harry kane