RADAR JEMBER - Lahir dan besar di London. Tidak pernah tinggal di Prancis. Tidak pernah main untuk klub Prancis manapun.
Bahkan sempat kesulitan berbahasa Prancis saat konferensi pers pertamanya sebagai pemain timnas.
Tapi Michael Olise memilih Prancis, bukan Inggris.
Padahal dia sebenarnya berhak membela tiga negara sekaligus: Inggris (tempat lahir), Nigeria (dari ayah), dan Prancis (dari ibu yang keturunan Aljazair-Prancis).
Inggris bahkan sempat memanggilnya di level junior, dari U16 sampai U21.
Lalu kenapa dia pilih Prancis?
Saat ditanya langsung, jawabannya sederhana tapi mengejutkan banyak orang: dia mengaku sejak kecil selalu merasa terhubung dengan timnas Prancis.
Idolanya waktu kecil bukan pemain Inggris, melainkan Zinedine Zidane, Thierry Henry, dan Franck Ribéry.
Dia juga mengaku dulu sering datang ke Prancis semasa kecil, dan itu terasa lebih alami baginya.
Baca Juga: Versi WIB: Ini Jadwal Lengkap Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Kini, hubungannya dengan bahasa Prancis pun sudah jauh berubah.
Dia mengaku sekarang lebih sering bicara Prancis dengan ibunya, bahkan hampir setiap saat.
Debut seniornya dipanggil oleh Didier Deschamps pada 2024, dan sejak itu jalannya menuju Piala Dunia 2026 bersama Prancis resmi terkunci, karena begitu tampil di laga kompetitif senior, aturan FIFA mengikat kewarganegaraan itu secara permanen.
Kisah Olise ini jadi contoh menarik gimana identitas pemain sepak bola modern nggak melulu soal tempat lahir atau tempat besar, tapi soal ke mana hati mereka condong.
Editor : M. Ainul Budi