Radar Jember - Di tengah gemuruh perayaan suporter Portugal yang merayakan kemenangan 2-1 atas Kroasia dalam laga dramatis Piala Dunia 2026, waktu seolah berhenti bagi seorang pria bertubuh mungil dengan nomor punggung 10, Luka Modric, justru menjadi pusat gravitasi.
Malam itu bukan tentang papan skor. Malam itu adalah tentang akhir dari sebuah era.
Sang dirigen, sang pengungsi perang yang bertransformasi menjadi raja lini tengah dunia, resmi memainkan simfoni terakhirnya bersama Vatreni (julukan Timnas Kroasia). Laga penuh emosi yang mempertemukannya dengan rival sekaligus sahabat lamanya, Cristiano Ronaldo, menjadi panggung perpisahan yang begitu puitis—sebuah kekalahan terhormat yang ditutup dengan standing ovation dari seluruh isi stadion.
Perjalanan Modric menuju malam emosional bukanlah karpet merah. Lahir di Zadar, masa kecilnya dihabiskan di tengah kecamuk Perang Kemerdekaan Kroasia. Kehilangan kakeknya yang dieksekusi, hingga harus tinggal di hotel pengungsian, sepakbola adalah penyelamat hidupnya.
Bakat besarnya pertama kali memikat Eropa saat ia berseragam Tottenham Hotspur (2008–2012). Di London Utara, ia menyihir Premier League dengan visi bermainnya yang jenius. Namun, takdir menuntunnya ke Real Madrid pada 2012—sebuah kepindahan yang awalnya sempat dicap media Spanyol sebagai "perekrutan terburuk", namun berakhir sebagai salah satu transfer paling sukses dalam sejarah sepakbola modern.
Bersama Los Blancos, Modric merengkuh segalanya: 6 trofi UEFA Champions League (UCL) dan puluhan gelar domestik.
Setelah melegenda di Madrid, Modric sempat mencicipi atmosfer Serie A bersama AC Milan, membawa mentalitas juara dan kepemimpinannya ke San Siro, sebelum akhirnya memasuki fase akhir karier klubnya saat ini. Di usianya yang telah menginjak 40 tahun, Modric saat ini masih aktif bermain untuk klubnya dengan komitmen kontrak yang berjalan hingga Juni 2027.
Puncak pengakuan individualnya terjadi pada tahun 2018. Setelah memutus dominasi satu dekade Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, Modric membawa pulang trofi Ballon d'Or, mengukuhkan dirinya sebagai gelandang terbaik di generasinya.
Jika di level klub ia adalah seorang maestro, maka di timnas Kroasia, Modric adalah dewa penolong. Sepanjang karier internasionalnya, Modric telah mencatatkan 182 penampilan (caps) bagi negaranya—sebuah rekor abadi yang sulit dipecahkan.
Meski gagal mempersembahkan trofi juara, pencapaiannya bersama negara kecil berpenduduk 4 juta jiwa ini melampaui ekspektasi mustahil:
- Runner-up Piala Dunia 2018 (Rusia)
- Peringkat Ketiga Piala Dunia 2022 (Qatar)
- Runner-up UEFA Nations League 2023
"Mengenakan jersi ini adalah hal terindah dalam hidup saya. Saya tidak menyesali apa pun," ucap Modric dengan mata berkaca-kaca saat diwawancarai oleh Sky Sports pasca-laga.
Di balik ketangguhannya di lapangan, Modric adalah sosok pria keluarga yang hangat. Keberhasilannya melewati karier yang panjang tidak lepas dari dukungan sang istri, Vanja Bosnic, serta ketiga anak mereka: Ivano, Ema, dan Sofia, yang tampak ikut turun ke lapangan memeluk sang ayah seusai laga melepas seragam catur khas Kroasia untuk terakhir kalinya.
Terkait masa depannya di dunia sepakbola secara keseluruhan, The Athletic dan Fabrizio Romano melaporkan bahwa Modric berencana untuk gantung sepatu sepenuhnya (pensiun total dari sepakbola profesional) pada akhir musim panas 2027, tepat saat kontrak klubnya berakhir. Ia memilih untuk menghabiskan sisa satu tahun ke depan fokus pada level klub tanpa beban laga internasional.
Laga melawan Portugal mungkin berakhir dengan kekalahan 2-1 bagi Kroasia, tetapi sepakbola tidak akan pernah lupa. Luka Modric pergi tidak dengan kepala tertunduk, melainkan dengan warisan yang akan terus hidup selamanya.
Thank you, El Maestro.
Editor : Maulana RJ