Radar Jember - Keajaiban sepak bola kembali memakan korban raksasa. Langkah Timnas Jerman di Piala Dunia 2026 dipastikan terhenti secara tragis setelah dipaksa mengepak koper lebih awal oleh tim kuda hitam, Paraguay.
Melalui drama adu penalti yang menegangkan, efisiensi khas Jerman yang melegenda seolah lenyap di bawah tekanan mental para algojo Paraguay.
Mengutip analisis taktis dari The Athletic, penyebab utama runtuhnya Die Mannschaft adalah kegagalan lini serang mereka dalam membongkar blok rendah (low-block) yang diterapkan dengan sangat disiplin oleh Paraguay.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa transisi yang lambat dan kreativitas yang buntu di sepertiga akhir lapangan membuat dominasi penguasaan bola Jerman menjadi tidak berarti, hingga akhirnya mereka frustrasi dan kehabisan energi saat memasuki babak tos-tosan.
Kegagalan ini terasa sangat memalukan jika melihat komposisi skuad Jerman. Diisi oleh deretan bintang elite dunia seperti Jamal Musiala, Florian Wirtz, hingga Kai Havertz, Jerman datang dengan status salah satu tim termahal di turnamen ini. Berdasarkan data dari Transfermarkt, total nilai pasar (market value) keseluruhan pemain Timnas Jerman menembus angka fantastis, hampir Rp20 triliun.
Namun, angka-angka megah di atas kertas tersebut terbukti sama sekali tidak berdampak pada performa kolektif mereka yang minim determinasi saat menghadapi militansi Paraguay.
Hasil minor ini sekaligus memperpanjang tren fluktuatif dan kemunduran Jerman di panggung tertinggi sepak bola dalam satu dekade terakhir. Sepanjang sejarahnya, Jerman adalah salah satu tersukses dengan koleksi 4 gelar juara Piala Dunia dan 4 kali finis sebagai runner-up.
Namun, menilik riwayat performa mereka dalam lima edisi Piala Dunia terakhir, taji Die Mannschaft tampak kian tumpul:
- 2010: Peringkat Ketiga
- 2014: Juara (Kampiun)
- 2018: Kandas di Fase Grup (Sebelum Babak 8 Besar)
- 2022: Kandas di Fase Grup (Sebelum Babak 8 Besar)
- 2026: Kandas di Babak Gugur Awal lewat penalti vs Paraguay (Sebelum Babak 8 Besar)
Tiga edisi beruntun gagal menembus babak delapan besar menegaskan bahwa reputasi besar Jerman kini tengah berada di titik nadir, sementara Paraguay melenggang ke perempat final dengan kepala tegak membawa status pembunuh raksasa.
Editor : Maulana RJ