Radar Jember – Kisah inspiratif datang dari panggung tertinggi sepak bola dunia.
Di saat sebagian besar orang di usianya mulai menurunkan tempo kehidupan, Josimar Jose Evora Dias atau yang lebih dikenal sebagai Vozinha, justru baru memulai pembuktiannya.
Di usia 40 tahun, penjaga gawang timnas Tanjung Verde (Cape Verde) ini berdiri tangguh di bawah mistar gawang dan menyajikan sebuah performa yang tidak akan pernah dilupakan dunia.
Namun, di balik deretan penyelamatan gemilangnya, tersimpan sebuah cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar pertandingan sepak bola.
Baca Juga: Bungkam Seribu Bahasa! Rafael Leao Tolak Mentah-Mentah Bicarakan Nasib AC Milan, Ada Apa?
Usai laga bersejarah tersebut, Vozinha tak kuasa menahan air matanya. Tangisan itu pecah bukan hanya karena euforia pertandingan, melainkan karena rasa kerinduan yang mendalam.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya menangis karena kakek dan nenek yang membesarkannya telah tiada dan tidak bisa menyaksikan momen emas tersebut.
Sang ibu pun terpaksa absen di stadion akibat kendala biaya dan rumitnya pengurusan visa.
Meski diterpa keterbatasan, Vozinha tetap berdiri tegak. Ia bertanding, berkompetisi, dan sukses menginspirasi jutaan orang.
Baca Juga: Angkat Koper Lebih Awal! Tiga Negara Resmi Tersingkir dari Persaingan Sengit Piala Dunia 2026
Kisahnya menjadi pengingat kuat bahwa kehebatan tidak didefinisikan oleh posisi pekerjaan, keadaan, atau seberapa banyak sumber daya yang Anda miliki.
Kehebatan sejati lahir dari keberanian untuk terus melangkah maju, bahkan di saat tidak ada seorang pun yang melihat perjuangan di balik impian tersebut.
Dari Jalanan Tanjung Verde hingga Jadi Sopir Bus
Vozinha lahir dan tumbuh besar di Tanjung Verde, sebuah negara kepulauan kecil di lepas pantai barat Afrika.
Karena sang ayah harus berdinas di militer dan ibunya sibuk bekerja, ia menghabiskan masa kecilnya dalam asuhan kakek dan neneknya.
Dari merekalah ia mendapatkan nama panggilan hangat “Vozinha”, yang berarti “Suara Kecil” dalam bahasa Portugis.
Sejak kecil, jalan hidupnya tidak pernah mudah. Ia terbiasa bermain sepak bola di jalanan melawan anak-anak yang lebih tua dan kuat, yang tak jarang mengejek postur tubuhnya.
Berulang kali menghadapi penolakan, dipandang sebelah mata, hingga didera keraguan pada diri sendiri, Vozinha menolak untuk menyerah pada impiannya.
Berbeda dengan pesepak bola modern yang sudah masuk akademi sejak kecil, Vozinha baru mencicipi dunia sepak bola profesional pada usia 25 tahun.
Guna menyambung hidup dan menghidupi keluarganya sembari terus mengejar mimpi di lapangan hijau, ia bahkan harus melakoni pekerjaan kasar sebagai teknisi listrik dan sopir bus.
Ada masa-masa sulit di mana ia sempat berpikir untuk gantung sepatu dan menyerah, namun ia memilih untuk terus percaya bahwa kerja kerasnya suatu saat akan membuahkan hasil.
Momen Bersejarah dan Air Mata untuk Keluarga
Impian besar itu akhirnya menjadi kenyataan. Kiper veteran berusia 40 tahun tersebut sukses mengantarkan Tanjung Verde mengukir sejarah besar dalam debut pertama mereka di ajang Piala Dunia FIFA.
Berhadapan dengan tim raksasa dunia, Spanyol, Vozinha menunjukkan performa terbaik sepanjang hidupnya.
Ia melakukan tujuh penyelamatan krusial yang memaksa laga berakhir dengan skor kacamata 0-0, sekaligus mendapuk dirinya sebagai Player of the Match.
Namun, air mata yang menetes di pipinya usai peluit panjang ditiupkan bukan sekadar tentang sepak bola.
Pikirannya langsung melayang kepada mendiang kakek dan neneknya, serta sang ibu yang tak bisa hadir karena kendala finansial dan biaya visa yang mencekik.
Baca Juga: FIFA Resmi Rilis Aturan Kelolosan Fase Grup Piala Dunia 2026, Skema Jadul Ini Akhirnya Dibuang!
Saat jutaan pasang mata di seluruh dunia merayakan aksi heroiknya, orang-orang tercinta yang paling ia harapkan hadir justru tidak ada di sana.
Vozinha kemudian mengungkapkan perasaan emosionalnya bahwa ia telah bekerja keras sepanjang hidupnya demi mewujudkan momen tersebut.
Ia sangat berharap kakek, nenek, serta ibunya bisa berada di stadion untuk menyaksikan langsung pembuktiannya.
Editor : Imron Hidayatullahh