Radar Jember – Otoritas sepak bola tertinggi sejagat, FIFA, akhirnya resmi angkat suara guna merespons polemik panas yang menyeret nama wasit asal Australia, Shaun Evans, di panggung Piala Dunia 2026.
Berdasarkan hasil investigasi menyeluruh yang dilakukan, komite independen menyatakan bahwa sang pengadil lapangan yang bertugas sebagai asisten Video Assistant Referee (VAR) tersebut sama sekali tidak terbukti secara sengaja membuat isyarat tangan "OK" yang kerap dikaitkan dengan simbol kebencian kaum supremasi kulit putih.
"Komite Disiplin independen FIFA dapat memastikan bahwa, setelah menyelidiki masalah yang melibatkan asisten wasit video Shaun Evans, tidak ditemukan bukti pelanggaran terhadap Kode Disiplin FIFA. Komite Disiplin juga telah mencatat pernyataan dari Saudara Evans," bunyi rilis resmi dari Komite Disiplin FIFA yang menegaskan status bersih sang wasit dari sanksi etik.
Sebelum vonis tersebut diketuk, Shaun Evans yang kini menginjak usia 38 tahun sudah lebih dulu melayangkan klarifikasi terbuka kepada publik.
Ia menegaskan bahwa gerakan jemari yang tertangkap kamera penyiaran murni merupakan sebuah gerakan refleks otot yang tidak disengaja, di mana saat itu dirinya sedang memegang alat tulis di dalam ruang pusat pemantauan digital VAR.
"Satu-satunya penjelasan yang bisa saya berikan adalah bahwa gerakan itu merupakan kedutan yang tidak disengaja dan tidak disadari. Dan saya tidak menyadari saya telah melakukannya saat itu. Gambar-gambar yang diambil kemudian selama pertandingan menunjukkan saya mengulangi gerakan ini berkali-kali sambil memegang pulpen di antara jari-jari saya," papar Shaun Evans menjelaskan kronologi teknis di balik layar.
Evans juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap narasi liar yang berkembang di ranah media massa, lantaran penggiringan opini tersebut dianggap sangat menyudutkan karakter dan integritas pribadinya sebagai profesional.
"Liputan media setelah insiden ini sama sekali tidak mencerminkan siapa saya. Tentu saja, saya memahami bagaimana gestur tersebut diinterpretasikan dan saya menyesalinya, namun saya ingin sangat jelas dan tegas menyatakan bahwa saya tidak secara sengaja atau dengan niat membuat simbol tangan yang disarankan," imbuhnya meluruskan kesalahpahaman.
Baca Juga: Beppe Marotta Masih Kejar Nico Paz! Inter Milan Butuh Banget?
"Menjadi wasit di Piala Dunia adalah kehormatan terbesar dalam karier saya dan saya menantikan untuk mendukung rekan-rekan saya selama sisa turnamen," katanya lagi.
Momen kontroversial yang memicu kegaduhan publik digital ini awalnya terjadi dalam laga penyisihan grup antara tim nasional Jerman berhadapan dengan Curacao pada Minggu, 14 Juni 2026 dini hari WIB.
Kamera siaran langsung tiba-tiba menyorot kondisi ruang kontrol VAR dan menangkap momen Evans menyatukan ibu jari serta telunjuknya membentuk lingkaran dengan arah menghadap ke bawah.
Dalam konotasi sosial beberapa tahun belakangan, simbol lingkaran tangan ke bawah tersebut memang kerap disalahgunakan oleh kelompok rasisme sebagai lambang White Power.
Makna diskriminatif itu lahir karena posisi tiga jari tersisa dianggap membentuk huruf W, sedangkan bulatan dari ibu jari dan telunjuk yang menjuntai ke bawah diasosiasikan sebagai representasi huruf P.
Namun dengan keluarnya keputusan resmi dari sidang Komite Disiplin FIFA, tuduhan rasisme terhadap wasit Australia tersebut resmi dinyatakan gugur.
Editor : Imron Hidayatullahh