RADAR JEMBER - Kebingungan yang terjadi di dalam tubuh AC Milan saat ini terasa sangat tidak masuk akal dan hampir tidak nyata bagi para pendukung setia Rossoneri.
Pada bursa transfer musim panas lalu, semua pihak sepakat bahwa klub sangat membutuhkan sosok yang mampu menyatukan tim, staf teknis, dan para penggemar. Langkah ini dinilai sangat krusial mengingat pihak kepemilikan seolah hidup di dunia yang berbeda dari realitas klub.
Baca Juga: RESMI OUT! AC Milan Rombak Besar-besaran Manajemennya, Begini Pernyataan Resmi Klub
Allegri hanya dibebani satu target utama: membawa Iblis Merah kembali berlaga di panggung megah Liga Champions.
Misi krusial tersebut secara tragis menemui kegagalan, padahal skuad ini sempat memukau dan tampil luar biasa di paruh pertama musim.
Hingga sebelum pertandingan terakhir kemarin, Rossoneri selalu berada di papan atas klasemen, bertahan di peringkat kedua dan ketiga selama tiga bulan terakhir.
Namun, torehan manis di awal musim itu ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan nasib mereka di garis finis.
Paruh kedua musim yang bagaikan neraka telah menghukum Milan untuk turun kasta secara memalukan ke Liga Europa.
Hasil ini sekaligus menjadi akhir dari petualangan kedua Massimiliano Allegri di Milan, yang langsung dipecat secara instan bersama Moncada, Tare, and Furlani.
Tim asuhan Massimiliano Allegri telah gagal memenuhi satu-satunya tujuan nyata musim ini, yakni lolos ke kompetisi tertinggi Eropa.
Situasi ini sangat tidak masuk akal, terutama jika kita mengingat rentetan kegagalan total yang juga terjadi pada kampanye musim lalu.
Kini, suasana revolusi telah menjadi kenyataan mutlak di Casa Milan dengan perombakan jajaran eksekutif besar-besaran.
Editor : M. Ainul Budi