MADRID, Radar Jember - Langit di atas Santiago Bernabeu tak lagi terasa sama. Di balik megahnya renovasi stadion yang kini menjadi simbol modernitas sepak bola dunia, ada getaran yang hilang.
Sebuah atmosfer yang dulu akrab dengan dentuman gemuruh puluhan ribu pasang paru-paru meneriakkan "Siuuu!", kini perlahan memudar menjadi desah kerinduan yang mendalam.
Real Madrid, raksasa dengan 15 gelar Liga Champions dalam lemari trofi mereka, sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Sejak kepergian Cristiano Ronaldo, efisiensi di depan gawang seolah kehilangan "sentuhan dingin" yang dulu menjadi standar emas klub.
Baca Juga: The Last Dance CR7: Cristiano Ronaldo Siap Guncang Piala Dunia 2026, Akhir dari Debat GOAT?
Banyak yang melupakan bahwa akhir dari sebuah dinasti seringkali tidak terjadi dengan dentuman meriah. Final Liga Champions di Kyiv pada 2018 menjadi saksi bisu momen paling ganjil dalam sejarah Los Blancos.
Tanpa pidato perpisahan yang megah, tanpa parade kehormatan, dan tanpa seremoni layak bagi seorang legenda yang telah mempersembahkan segalanya, Sang Greatest of All Time (GOAT) Cristiano Ronaldo melangkah pergi.
Malam itu, di bawah sorot lampu NSC Olimpiyskiy, pertandingan tersebut menjadi bab penutup yang kelam. Ronaldo pergi begitu saja, meninggalkan lembaran sejarah emas yang ia tulis sendiri, seolah membiarkan takdir menggantung tanpa kata "selamat tinggal" yang tuntas.
Baca Juga: Kutukan Zidane Terbukti? Tragedi Hat-trick Absen Gli Azzurri di Piala Dunia 2026
Suara dari Tribun yang menginginkan Sang "Last Dance" belum benar-benar surut. Keheningan di Bernabeu kini bukan hanya soal taktik, melainkan soal koneksi emosional.
Asosiasi pendukung resmi Real Madrid, Peña Madridista, merasa ada ruang hampa yang tak terisi oleh pemain bintang manapun yang datang setelahnya.
Dalam pertemuan rutin di Madrid, Senin (13/4/2026), perwakilan asosiasi pendukung tersebut menyuarakan keinginan yang kini menjadi doa kolektif para fans: melihat pria dengan koleksi lebih dari 900 gol karier itu mengenakan putih kembali.
"Kami tidak hanya merindukan golnya, kami merindukan auranya. Bernabeu terasa seperti rumah yang kehilangan pemiliknya. Keinginan terbesar kami adalah melihat Cristiano kembali ke sini, setidaknya untuk satu laga terakhir atau satu musim terakhir, sebelum ia benar-benar memutuskan untuk menggantung sepatu. Ia pantas mendapatkan perpisahan yang tidak didapatkannya di tahun 2018," ungkap Carlos Gutierrez, juru bicara Peña Madridista, dalam keterangan terbukanya, di pusat kota Madrid, Senin (13/4/2026).
Statistik seringkali tidak berbohong. Meski Madrid tetap kompetitif, inkonsistensi yang melanda klub belakangan ini kerap dikaitkan dengan hilangnya sosok pemimpin di lapangan.
Saat tim buntu, Bernabeu tidak lagi punya jaminan bahwa seorang Ronaldo akan muncul dari ketiadaan untuk mengubah hasil akhir.
Bagi Madridista, Ronaldo bukan sekadar pemain; ia adalah metafora dari kemenangan itu sendiri. Dengan 900 lebih koleksi gol yang telah ia torehkan sepanjang karier profesionalnya, sosok CR7 tetap menjadi standar absolut yang kini dibayangi oleh ekspektasi tinggi publik Santiago Bernabeu.
Baca Juga: Paradoks Serie A: Liga Bertabur Bintang Tapi hanya Penonton di Piala Dunia
Apakah Madrid akan benar-benar membawa pulang sang legenda untuk sebuah Last Dance? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun, satu hal yang pasti: di setiap sudut Bernabeu, di setiap napas para pendukungnya, nama Cristiano Ronaldo masih berdegup kencang, menunggu untuk dipanggil pulang.
Editor : Maulana RJ