RADAR JEMBER - Menganalisis lini tengah AC Milan sama seperti membedah sejarah kejayaan sepak bola itu sendiri.
Sebagai klub yang identik dengan gaya main elegan dan taktis, Milan selalu memiliki "mesin" yang luar biasa di lini tengah.
Berikut adalah analisa mengenai 3 gelandang terbaik AC Milan sepanjang masa yang masing-masing mewakili era dan peran yang berbeda:
1. Gianni Rivera (The Golden Boy)
Rivera bukan sekadar pemain; ia adalah simbol kebangkitan Milan sebagai kekuatan Eropa. Menghabiskan 19 musim di San Siro, ia adalah playmaker murni yang mendefinisikan peran nomor 10.
Baca Juga: Manajemen AS Roma Mulai Lirik Rekan Jay Idzes Ini di Sassuolo
Gaya Main: Visi bermain yang melampaui zamannya, umpan yang presisi secara matematis, dan kemampuan mencetak gol yang tinggi untuk seorang gelandang.
Pencapaian Kunci: Membawa Milan meraih dua gelar Liga Champions (1963, 1969) dan merupakan pemain Italia pertama yang memenangkan Ballon d'Or (1969).
Analisa: Rivera adalah otak di balik transisi Milan dari klub domestik menjadi penguasa Benua Biru. Tanpa Rivera, identitas Milan sebagai tim yang "elegan" mungkin tidak akan pernah terbentuk.
2. Frank Rijkaard (The Complete Engine)
Bagian dari "Trio Belanda" yang legendaris, Rijkaard adalah sosok yang menyatukan lini belakang dan depan dalam sistem Total Football milik Arrigo Sacchi.
Gaya Main: Ia adalah definisi gelandang modern sebelum istilah itu populer. Kuat dalam duel fisik, cerdas dalam memotong serangan lawan, namun memiliki teknik olah bola layaknya seorang penyerang.
Baca Juga: Kapten Juventus Ini Berani Sesumbar? Juve Memang Layak Main di Liga Champions
Pencapaian Kunci: Menjadi pilar saat Milan mendominasi dunia di akhir 80-an dan awal 90-an, termasuk mencetak gol kemenangan di Final Liga Champions 1990.
Analisa: Jika Franco Baresi adalah komandan di belakang, Rijkaard adalah jenderal di tengah.
Ia memberikan keseimbangan yang membuat pemain seperti Gullit dan Van Basten bebas menyerang.
Ia dianggap sebagai salah satu gelandang bertahan terbaik yang pernah ada.
3. Andrea Pirlo (The Maestro)
Di bawah asuhan Carlo Ancelotti, Pirlo merevolusi peran gelandang. Ia tidak butuh kecepatan fisik untuk mendominasi pertandingan; ia hanya butuh ruang satu meter dan visinya.
Gaya Main: Ditempatkan sebagai deep-lying playmaker (regista). Keahlian utamanya adalah umpan lambung akurat dan tendangan bebas mematikan.
Ia mengatur tempo permainan layaknya seorang konduktor orkestra.
Baca Juga: CEDERA! Kapten Inter Milan Absen Selama Waktu Ini Sementara
Pencapaian Kunci: Dua gelar Liga Champions (2003, 2007) dan menjadi pusat dari salah satu lini tengah terkuat di dunia bersama Gattuso, Seedorf, dan Kaka.
Analisa: Pirlo membuktikan bahwa kecerdasan jauh lebih penting daripada otot.
Di Milan, ia mengubah cara pandang dunia terhadap posisi gelandang bertahan—dari sekadar "tukang jagal" menjadi kreator serangan utama.
Editor : M. Ainul Budi