LISBON, Radar Jember - Dunia sepak bola kini sedang menahan napas. Hitung mundur menuju kick-off Piala Dunia 2026 di Amerika Utara telah dimulai, dan satu nama tetap menjadi pusat gravitasi: Cristiano Ronaldo.
Sang kapten legendaris Portugal ini tidak hanya bersiap untuk turnamen keenamnya, tetapi juga membawa misi untuk menuntaskan takdirnya sebagai The Greatest of All Time (GOAT) di panggung paling megah di bumi.
Sepak terjang Portugal dalam peta sepak bola dunia terbelah menjadi dua era yang kontras.
Baca Juga: Paradoks Serie A: Liga Bertabur Bintang Tapi hanya Penonton di Piala Dunia
Berdasarkan data sejarah resmi Federasi Sepak Bola Portugal (FPF), perbedaannya sangat mencolok.
Sebelum Era Ronaldo (1921–2002), dalam rentang 80 tahun, Portugal adalah tim yang sering absen di panggung besar. Mereka hanya mampu lolos 3 kali ke Piala Dunia (1966, 1986, 2002) dan 3 kali ke Piala Eropa. Tanpa satu pun trofi di lemari mereka.
Namun semua berubah di era Cristiano Ronaldo (2003–Sekarang). Sejak debut remaja berusia 18 tahun pada 2003, Portugal menjelma menjadi raksasa yang tak pernah absen. Di bawah kepemimpinan Ronaldo, Portugal lolos 6 kali berturut-turut ke Piala Dunia dan 6 kali ke Piala Eropa.
Prestasinya? Satu trofi Euro (2016) dan dua gelar UEFA Nations League (2019, 2025).
Baca Juga: Kutukan Zidane Terbukti? Tragedi Hat-trick Absen Gli Azzurri di Piala Dunia 2026
Berdasarkan hasil undian resmi FIFA yang dirilis Maret 2026, Portugal tergabung dalam Grup K bersama Republik Demokratik (RD) Kongo, Uzbekistan, dan Kolombia.
Meski belum ada catatan head to head yang mencolok saat pertemuan terakhir, Portugal diunggulkan sebagai juara grup. Dan laga penutup melawan Kolombia di Miami diprediksi akan menjadi ujian sesungguhnya bagi lini pertahanan tim asuhan Roberto Martinez.
Pelatih Roberto Martinez dalam keterangan resminya menegaskan bahwa posisi Ronaldo tak tergantikan. "Cristiano adalah kapten kami, pemimpin unik dengan lebih dari 220 caps. Kehadirannya bukan sekadar soal taktik, tapi soal dedikasi yang menjadi standar bagi seluruh tim," kata Roberto Martinez, saat dikutip di Lisbon, 5 April 2026.
Bagi publik, Piala Dunia 2026 adalah The Last Dance. Jutaan pasang mata akan tertuju pada sosok bernomor punggung 7 ini.
Ban kapten yang melingkar di lengannya bukan sekadar simbol otoritas, melainkan beban sejarah untuk mengakhiri perdebatan GOAT dengan trofi emas yang paling ia dambakan. Di usianya yang kini mencapai 41 tahun, setiap sentuhan bolanya di tanah Amerika akan menjadi fragmen sejarah yang tak ingin dilewatkan oleh dunia.
Editor : Maulana RJ