ROMA, Radar Jember - Pangeran Roma telah angkat bicara, dan kata-katanya menghujam lebih dalam dari sekadar kekalahan di lapangan.
Francesco Totti, sosok yang menjadi simbol kejayaan Italia saat merengkuh trofi emas 2006, memberikan vonis pahit atas kegagalan memalukan Gli Azzurri melaju ke Piala Dunia 2026. Bagi Totti, absennya Italia untuk ketiga kalinya secara beruntun bukan lagi sebuah nasib buruk, melainkan sebuah "Aib Nasional".
Totti membandingkan jurang perbedaan antara generasinya yang legendaris dengan skuad masa kini.
Baca Juga: Kutukan Zidane Terbukti? Tragedi Hat-trick Absen Gli Azzurri di Piala Dunia 2026
Ia mengenang masa ketika mengenakan seragam biru bukan tentang kontrak iklan atau jumlah pengikut di media sosial, melainkan tentang pengorbanan darah dan keringat.
"Italia yang saya ingat adalah tim para pejuang," kenang Totti dengan nada getir, dalam kesempatan memberikan keterangan, dikutip dari BeinSport, belum lama ini.
"Kami fokus, penuh tekad, dan siap berkorban segalanya di atas lapangan. Kami tidak terganggu oleh kebisingan media sosial. Bagi kami, hanya ada sepak bola, kebanggaan, dan tanggung jawab suci kepada negara," tambah dia.
Kontras dengan romansa masa lalu tersebut, Totti melihat skuad asuhan Italia saat ini telah terjangkit penyakit kepuasan diri.
Baca Juga: Paradoks Serie A: Liga Bertabur Bintang Tapi hanya Penonton di Piala Dunia
Ia mengkritik keras gaya hidup pemain modern yang menurutnya telah mengikis rasa lapar akan kemenangan.
Lebih lanjut, mantan kapten AS Roma ini tidak menampik bahwa Italia masih memiliki pemain berbakat. Namun, menurutnya, bakat tanpa disiplin adalah kesia-siaan.
"Masalahnya bukan karena kita kekurangan kualitas teknis, yang paling mengkhawatirkan adalah hilangnya semangat dan disiplin. Terlalu banyak pemain yang terlalu cepat puas. Mereka lebih sibuk dengan ketenaran, penampilan fisik, dan gaya hidup mewah. Konsentrasi dan ambisi mereka menguap begitu saja," tegas Totti.
Status Italia sebagai pengoleksi empat bintang di dada kini terasa seperti beban sejarah yang terlalu berat untuk dipikul.
Dengan kegagalan mencapai putaran final di Amerika Utara tahun 2026 nanti, Italia mencatatkan sejarah kelam yang tak terbayangkan sebelumnya.
"Sekarang kita harus menelan penghinaan terbesar—absen dari Piala Dunia tiga kali berturut-turut," lanjut sang legenda.
"Untuk negara dengan tradisi sepak bola sebesar Italia, ini bukan sekadar kegagalan teknis. Ini adalah sebuah aib sejarah. Tanpa semangat dan kebanggaan, bakat sebesar apa pun tidak akan berarti apa-apa," tambah Totti.
Baca Juga: Paradoks Serie A: Liga Bertabur Bintang Tapi hanya Penonton di Piala Dunia
Kritik Totti ini menjadi alarm keras bagi FIGC dan sistem sepak bola Italia secara keseluruhan. Ketika liga domestik terus bergelimang kemewahan, Tim Nasional justru kehilangan jati dirinya.
Pesan sang Pangeran Roma sangat jelas: Italia harus berhenti bersolek dan mulai kembali berperang, atau mereka akan selamanya hanya menjadi penonton di pesta sepak bola dunia.
Editor : Maulana RJ