RADAR JEMBER - Dengan Paulo Dybala, semuanya selalu soal sensasi dan kondisi tubuh. Jika merasa 100%, ia turun sebagai pembeda. Jika tidak, ia memilih berhenti.
Dua sisi dari pemain dengan kualitas luar biasa—dan fragilitas yang harus dikelola dengan cermat.
Di Trigoria, pendekatan terus berkembang dari waktu ke waktu. Dari era José Mourinho, lalu Daniele De Rossi dan Claudio Ranieri, manajemen menit bermain dilakukan dengan sangat hati-hati.
Kini bersama Gian Piero Gasperini, pendekatannya berbeda: jika dinyatakan fit oleh tim medis, Dybala bermain. Tanpa setengah langkah.
Tanpa manajemen khusus. Konsekuensinya? Ritme kembali yang lebih hati-hati dan keputusan yang harus benar-benar tepat sebelum berkata, “Saya siap.”
Musim ini, ia menjadi starter 14 kali dari 34 laga. Saat ia bugar, kualitasnya tidak tergantikan.
Di sisi lain, kontraknya akan berakhir pada Juni mendatang.
Situasi masih terbuka, dan fokus utama tetap pada kontribusinya di lapangan hingga akhir musim.
Bagi AS Roma, yang terpenting tetap satu: Ketika La Joya tersenyum dan fit, ia adalah senjata utama.
Editor : M. Ainul Budi