RADAR JEMBER - Kekalahan Inter Milan dari Bologna di semifinal Supercoppa Italiana tidak bisa disederhanakan sebagai nasib buruk di adu penalti.
Ada persoalan yang lebih dalam, terutama soal daya gedor, kejelasan peran pemain sayap, dan ketajaman dalam momen krusial.
Luis Henrique menjadi simbol masalah itu.
Ia memulai laga dengan energi dan keberanian, namun seperti yang sering terjadi musim ini, intensitasnya menguap seiring waktu.
Baca Juga: Mantan Penyerang Inter Milan Ini Soroti Blunder Terus Terusan Bisseck, Ada Indikasi Mafia?
Dalam pertandingan besar, Inter butuh pemain sayap yang tidak hanya rajin membawa bola, tetapi mampu menentukan hasil. Henrique belum sampai ke level itu. Bukan gagal total, tetapi masih setengah matang untuk laga penentuan.
Sebaliknya, Andy Diouf justru memberi gambaran tipe gelandang yang dibutuhkan Inter saat tempo menurun.
Ia agresif, berani memaksa lawan keluar dari zona nyaman, dan tidak ragu mengambil risiko. Bukan pemain paling elegan, tetapi efektif.
Baca Juga: Dua Kabar Transfer AS Roma yang 99 Persen Deal, Striker MU Siap Jadi Serigala Baru?
Ketika Inter kehabisan ide, Diouf setidaknya menawarkan gangguan nyata bagi struktur Bologna.
Masalah juga muncul di lini belakang. Bisseck tampil solid dalam duel fisik, namun kesalahan elementer seperti handball di area terlarang tak bisa ditoleransi di laga hidup-mati.
Ini bukan soal kualitas, melainkan konsentrasi.
Inter membayar mahal satu momen ceroboh, sesuatu yang terlalu sering terulang musim ini.
Baca Juga: Juventus Siap-siap Kehilangan Gelandang Mudanya Ini, Lazio Gercep Lakukan Pendekatan
Barella dan Zielinski menunjukkan kualitas pengalaman. Barella menjadi motor yang tak pernah berhenti, meski kerap terisolasi oleh pressing agresif Bologna. Zielinski rapi dan cerdas, namun rapi saja tidak cukup ketika tim membutuhkan ledakan kreativitas di sepertiga akhir.
Inter sebenarnya bermain cukup baik secara struktural.
Gol Thuram adalah bukti bahwa mekanisme masih bekerja. Namun sepak bola modern tidak lagi dimenangkan hanya dengan sistem. Dibutuhkan pemain yang mampu memecahkan kebuntuan secara individual, terutama saat pertandingan masuk fase buntu.
Kekalahan ini seharusnya menjadi alarm, bukan drama. Inter tidak kekurangan pemain bagus, tetapi kekurangan difference maker di sayap dan di momen krusial. Jika evaluasi ini diabaikan, Inter mungkin tetap kompetitif—namun akan terus gagal di ambang trofi.
Editor : M. Ainul Budi