RADAR JEMBER - Di panggung analisis Sky Sport, Beppe Bergomi kembali mengurai denyut nadi Inter Milan kali ini setelah malam suram di San Siro, ketika Liverpool mencuri kemenangan dan meninggalkan bayang-bayang tanya di udara Milan.
Mantan kapten Nerazzurri itu berbicara tegas, namun tetap dengan nada penuh rasa: seolah ia tengah menyentuh sisi rapuh dari sebuah tim yang sedang berjuang menahan arah hembusan angin.
Pergantian yang Minim, Keberanian yang Dipertanyakan
“Inter asuhan Chivu mengejutkan saya,” ujar Bergomi.
Baca Juga: Inter Milan Memiliki Keunikan Tersendiri di Ajang Eropa, Kini Diyakini Lebih Mumpuni?
“Dengan usia rata-rata setinggi itu, mereka hanya mengganti satu pemain dibanding laga melawan Como. Melawan Como mereka berlari dengan tenaga muda, melawan Liverpool mereka terpaksa mengganti dua pemain hanya dalam 20 menit.”
Ada nada kritik, namun juga pengakuan:
untuk bertahan di tiga kompetisi, keberanian bukan lagi pilihan—melainkan kewajiban.
Dua Masalah Utama: Kecepatan dan Waktu
Bergomi kemudian menembus inti persoalan.
Baca Juga: Chivu Komentari Hasil Kalah Inter Milan dari Liverpool: Harusnya Kami Dapat Imbang
Menurutnya, Inter kehilangan kelincahan dan kecepatan, membuat mereka tak bisa menari dalam serangan balik. Akhirnya, mereka selalu mundur, bertahan dalam garis yang kian menua.
Dan seperti kutukan yang berulang,
gol-gol di penghujung laga kembali menghantui.
“Inter sebenarnya bisa membawa pulang dua poin lebih banyak,” kata Bergomi,
“tetapi mereka tak mampu menjaga denyut sampai detik terakhir.”
Baca Juga: Peresmian Stadion Baru AS Roma Ditunda? Kenapa?
Inter yang Tangguh, Namun Rentan
Di balik analisanya, ada pesan halus:
Inter tetap kuat, tetap disiplin, tetap bertarung.
Namun dalam ritme tinggi Eropa,
usia, kecepatan, dan keberanian rotasi adalah tiga kunci yang tak lagi bisa disangkal.
Chivu mengejutkannya—bukan karena Inter bermain buruk,
melainkan karena pelatih muda itu memilih berdiri tegak
dengan para pemain yang sudah menanggung banyak musim di pundak.
Editor : M. Ainul Budi