RADAR JEMBER - Media Jerman Die Zeit mengungkap dugaan korupsi sistematis di tubuh FIFA yang disebut ‘menjual’ Piala Dunia 2026 kepada Arab Saudi dan Qatar.
Kelolosan dua negara tersebut ke turnamen bergengsi itu diduga telah diatur sebelumnya oleh FIFA, yang kini dianggap terlalu akrab dengan keduanya.
Lewat keputusan menunjuk Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah ronde keempat Kualifikasi Zona Asia serta jadwal yang disusun tanpa diskusi, FIFA dinilai membuka jalan selebar mungkin untuk mereka.
Protes keras dari Indonesia, Oman, Irak, dan Uni Emirat Arab tidak digubris, begitu pula permintaan transparansi yang diabaikan tanpa penjelasan resmi.
Hal ini membuat FIFA kembali disorot, bahkan dianggap lebih buruk dibanding era Sepp Blatter yang penuh skandal suap dan korupsi.
“Siapa pun yang berharap FIFA membaik setelah era Blatter jelas keliru,” tulis jurnalis Christian Spiller dari Die Zeit.
Menurut laporan tersebut, kelolosan Arab Saudi dan Qatar diyakini sebagai imbalan atas dukungan finansial besar terhadap proyek Gianni Infantino dkk.
Perusahaan minyak Aramco dan maskapai Qatar Airways disebut sebagai dua sponsor besar yang memperkuat hubungan ekonomi dengan FIFA.
Baca Juga: DOK! Hari Ini Keputusan Resmi Pelatih Baru Timnas Indonesia, PSSI Terus Dapat Bisikan Apa?
Sebagai balasan, perusahaan asal Saudi kini menjadi sponsor utama FIFA, bahkan membeli 10% saham DAZN —layanan streaming yang sebelumnya membeli hak siar Piala Dunia Klub 2025 senilai 1 miliar dolar.
Baca Juga: Skema Ala David Beckham Jadi Jalan Pintas AC Milan Dapatkan Striker Andalan era Shin Tae Yong Ini
Spiller menyindir bahwa FIFA bisa saja memberi tiket otomatis ke negara yang kaya minyak, punya dua huruf “A” di namanya, atau paling tidak demokratis.
“Sayang sekali, Indonesia,” tulisnya menutup kolom tersebut.
Editor : M. Ainul Budi