RADAR JEMBER - Klub sepak bola di Indonesia berpotensi menghadapi sanksi pengurangan poin apabila dinilai gagal mengendalikan suporternya hingga melakukan tindakan anarkis dan kekerasan terhadap pihak lain.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyampaikan rencana tersebut setelah bus tim Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung diserang di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, pada Minggu (11/10/2026) malam.
Erick menegaskan, klub harus memiliki tanggung jawab untuk menjaga perilaku pendukungnya agar rivalitas sepak bola tidak berujung pada tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain.
"Saya akan mendorong klub yang tidak bisa menjaga suporternya pengurangan poin. Tapi, saya kasih kesepakatan dulu, kami akan lakukan tindakan tegas pastinya," ujar Erick Thohir di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Ancaman tersebut menjadi sinyal bahwa PSSI ingin mendorong penanganan yang lebih tegas terhadap aksi kekerasan suporter, termasuk dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap posisi klub dalam kompetisi.
Erick menilai, penyerangan terhadap bus tim EPA Persib bukan lagi persoalan rivalitas biasa karena terdapat oknum yang membawa alat pemukul hingga melakukan perusakan kendaraan.
"Mana ada menonton bola bawa alat pukulan, nah ini konteksnya kan artinya sudah ada pemikiran," jelas Erick.
Menurutnya, tindakan semacam itu perlu menjadi perhatian serius karena pertandingan sepak bola seharusnya berlangsung dalam suasana aman, bukan menjadi pemicu kekerasan antarkelompok pendukung.
Selain mendorong sanksi pengurangan poin, Erick juga menyinggung kemungkinan diberlakukannya kembali larangan suporter tandang atau away seperti yang pernah diterapkan pada musim sebelumnya.
Wacana tersebut perlu dibahas bersama operator liga dan klub agar kebijakan yang diambil dapat mempertimbangkan aspek keamanan serta mencegah terulangnya insiden serupa.
Erick berharap pembatasan suporter tandang dapat memberikan efek jera bagi pihak yang terlibat dalam aksi kekerasan, terlebih kesempatan bagi suporter untuk mendukung timnya secara langsung baru kembali dibuka pada musim ini.
"Masa enggak kapok juga. Ini sudah dikasih pada musim ini, baru ini pertama dikasih, masa kejadian lagi gitu," ujar Erick.
Meski menyampaikan peringatan keras, Erick yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga tidak ingin menyalahkan satu pihak secara sepihak atas insiden tersebut.
Ia berharap klub, operator kompetisi, dan pihak terkait dapat memperkuat koordinasi serta membangun komitmen bersama untuk menjaga keamanan dalam setiap pertandingan.
Hingga pernyataan itu disampaikan, pengurangan poin masih berupa langkah yang didorong oleh Erick dan belum dinyatakan sebagai sanksi resmi yang telah dijatuhkan kepada klub tertentu.
Penulis : Muhammad Rohman Setiawan
Editor : M. Ainul Budi