Radar Jember - Mantan Asisten Manajer Persid Jember tahun 2018, Satriyo Budi Darmawan, buka suara secara gamblang.
Ia membedah anomali yang terjadi pada tubuh Macan Raung, mulai dari pergantian pelatih yang janggal, hilangnya pilar penting secara misterius, hingga rapuhnya dukungan publik sendiri.
Mas Yoyok, sapaan akrab dia, sejak awal menilai persiapan Persid cukup menjanjikan di bawah asuhan Coach Agus Yuwono.
Mereka tampil perkasa dan sukses menembus semifinal Regional Jawa Timur—salah satu regional paling neraka dengan jumlah peserta terbanyak.
Namun, keputusan manajemen melakukan pergantian nakhoda ke Coach Nurul Huda tepat sebelum babak 64 besar nasional dimulai, dinilai sebagai perjudian besar yang membingungkan.
"Saat ditangani Coach Agus, Persid sedang baik-baik saja. Apalagi nanti ditambah amunisi baru, harusnya bisa lebih hebat. Entah kenapa ada pergantian pelatih, saya belum dapat info," katanya, Minggu (21/6).
Meski sempat mulus di babak 64 besar, keruntuhan Persid Jember justru terjadi di babak 32 besar. Ironisnya, kegagalan ini terjadi saat Persid diuntungkan sebagai tuan rumah.
Baca Juga: Berikut Klasemen Sementara Grup X 32 Besar Liga 4 Nasional, Persid Jember Jadi Juru Kunci
Yoyok masih tidak habis pikir, absennya dua pemain anyar yang menjadi kunci permainan, yakni Dadang (nomor 13) dan Farel (nomor 10), dari Daftar Susunan Pemain (DSP).
"Dua pemain baru yang saya lihat di 64 besar itu, di babak 32 besar tidak ada di DSP. Padahal menurut saya, mereka itu jantung permainan Persid. Entah isu sakit, atau opname, yang jelas di tiga pertandingan babak 32 besar, mereka berdua tidak ada," cetus Mas Yoyok.
Ia juga berpendapat, tanpa kehadiran dua dinamo permainan itu, skema taktis Persid menjadi tumpul dan limbung. Hasilnya pun fatal, Persid Jember harus mengakui keunggulan rival-rivalnya di grup dan dipastikan tersingkir.
Lebih jauh, Yoyok juga menilai Persid kalah dalam aspek non-teknis. Keberhasilan manajemen melobi PSSI untuk menjadikan Stadion Jember Sport Garden (JSG) sebagai tuan rumah babak 64 besar dan 32 besar berakhir sia-sia karena sepinya penonton.
Stadion megah berkapasitas 20.000 penonton tersebut tampak melompong dan kehilangan atmosfer horor yang seharusnya jadi daya tekan psikologis bagi tim tamu. Tercatat, laga kandang Persid hanya dihadiri sekitar 500 hingga 1.200 pasang mata.
Kondisi ini disebutnya cukup merugikan mental pemain dan memicu catatan negatif dari PSSI. "Kasihan pemain kalau tanpa support. Sepak bola bukan cuma satu lini, tapi kesatuan aspek. Kalau perjuangan hanya di pemain dan manajemen, ya kasihan," kata Yoyok.
Baca Juga: Hasil Minor Persid Jember di Babak 32 Besar Liga 4 Nasional: Ditahan Seri 1-1 dari Pasuruan United
Ia sangat menyayangkan, kegagalan tahun 2026 ini menjadi tamparan keras bagi publik sepak bola Jember. Selama 18 tahun terakhir, Persid kerap terjebak dalam siklus kegagalan di Regional Jatim.
Ketika kesempatan emas untuk bangkit sudah di depan mata, problem internal dan kurangnya gairah dari atas tribun justru kembali memaksa mereka mengubur mimpi.
"Kita harus 'gila' di semua lini kalau mau lolos. Ini untuk mencapai 32 besar nasional itu susah banget," pungkasnya menutup evaluasi. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh