Radar Jember - Di luar persoalan teknis di lapangan, satu keputusan yang paling banyak diperbincangkan sepanjang perjalanan Persid musim ini adalah pergantian pelatih menjelang putaran nasional.
Keputusan itu muncul saat Persid sedang berada dalam tren positif. Bersama Agus Yuwono, tim berhasil menembus semifinal Liga 4 Jawa Timur dan belum pernah menelan kekalahan selama waktu normal pertandingan.
Namun situasi berubah mendadak ketika Agus tidak lagi mendampingi tim menjelang fase nasional. Waktunya pun terbilang mepet, hanya sekitar sepekan sebelum Persid memulai perjuangan di babak 64 besar nasional.
Pergantian tersebut memunculkan banyak pertanyaan. Sebab, skuad yang berlaga di putaran nasional merupakan hasil seleksi dan racikan Agus sejak awal musim.
Mulai karakter permainan, kebutuhan pemain, hingga skema taktikal sudah dibentuk selama berbulan-bulan.
Secara teori, pergantian pelatih di fase krusial selalu mengandung risiko besar. Adaptasi strategi, komunikasi ruang ganti, hingga chemistry pemain dengan pelatih baru membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Manajer Persid M. Sholahuddin Amrullah menegaskan keputusan itu bukan diambil secara tiba-tiba tanpa alasan.
Baca Juga: Berikut Klasemen Sementara Grup X 32 Besar Liga 4 Nasional, Persid Jember Jadi Juru Kunci
Menurutnya, manajemen sebenarnya sudah memenuhi seluruh hak pelatih sebelumnya sesuai kontrak yang berlaku hingga akhir kompetisi.
"Kalau secara kontrak, kami sudah memberikan semuanya. Tidak ada yang diabaikan. Semua hak juga sudah terpenuhi. Tetapi kemudian ada dinamika dan beliau tidak berkenan kembali," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember, Sabtu (20/6).
Setelah itu, manajemen akhirnya menunjuk Nurul Huda sebagai pelatih kepala. Itu H-2 sebelum putaran nasional Liga 4 Piala Presiden bergulir.
Jo, sapaan akrab Sholahuddin menjelaskan, mantan karteker Deltras FC Sidoarjo itu dipilih setelah melalui koordinasi internal. Huda dianggap memiliki karakter kepelatihan yang tidak jauh berbeda dengan pendahulunya.
"Kami memilih Coach Nurul Huda karena kalibernya setara dan cara melatihnya juga hampir sama. Jadi harapannya proses adaptasi tim tidak terlalu lama," katanya.
Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan Persid tidak mampu melangkah lebih jauh. Di fase 32 besar, Macan Raung gagal menembus 16 besar yang menjadi gerbang menuju persaingan promosi.
Karena itu, pergantian pelatih menjelang putaran nasional tetap menjadi salah satu bahan evaluasi yang sulit dihindari.
Apalagi, sebelum keputusan jatuh kepada Nurul Huda, sempat muncul berbagai spekulasi mengenai kandidat pelatih lain yang akan datang menangani tim.
Baca Juga: Hasil Minor Persid Jember di Babak 32 Besar Liga 4 Nasional: Ditahan Seri 1-1 dari Pasuruan United
Ia tidak menampik bahwa soliditas menjadi pekerjaan rumah utama musim depan. Bukan hanya untuk pemain, tetapi juga hubungan antara seluruh elemen tim.
"Evaluasinya ya sama-sama introspeksi. Manajemen tentu punya banyak kekurangan. Tim kepelatihan juga begitu. Ke depan kami harus lebih solid lagi agar perjalanan musim depan bisa lebih baik," ujarnya.
Musim ini memang berakhir tanpa promosi. Namun dibanding musim-musim sebelumnya, Persid setidaknya sudah menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing di level nasional.
Tinggal dua langkah yang gagal dituntaskan tahun ini. Tantangannya kini bukan sekadar mengulang perjalanan tersebut, melainkan memastikan langkah yang terhenti di babak 32 besar benar-benar bisa terbalaskan dengan promosi Liga 3 musim depan. (kin/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh