Radar Jember - Sebuah simfoni sepak bola modern yang megah bergema di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Timnas Indonesia di bawah komando taktis John Herdman menampilkan performa yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menghancurkan sejarah kelam masa lalu. Menjamu Oman dalam laga FIFA Matchday, Jumat (5/6/2026) malam WIB, Skuad Garuda menggilas tim peringkat 79 dunia itu dengan skor telak 3-0.
Ini bukan sekadar kemenangan uji coba; ini adalah pernyataan eksperimen taktis kelas tinggi yang menyudahi puasa kemenangan atas Oman selama hampir empat dekade.
Baca Juga: Intip Hitung-hitungan Poin FIFA Usai Timnas Indonesia Lumat Oman 3-0
Sebelum peluit pertama dibunyikan, catatan historis berpihak pada tim tamu. Sejak kemenangan terakhir Indonesia pada Kings Cup 1988 (skor 3-0), Oman menjelma menjadi momok yang menakutkan bagi Merah Putih. Dari kekalahan tipis 0-1 di GBK pada 2007, hingga memori kelam di Dubai tahun 2021 saat skuad asuhan Shin Tae-yong ditekuk 1-3, Oman selalu punya cara untuk mengeksploitasi Indonesia.
Namun, di bawah kendali John Herdman, cerita lama itu dibakar habis. Pelatih asal Inggris tersebut menginstruksikan skema high-pressing yang agresif dikombinasikan dengan transisi vertikal yang begitu cair.
Sejak menit awal, Oman yang dikenal dengan kolektivitas permainannya dibuat frustrasi. Lini tengah Garuda yang dipimpin kombinasi pemain muda berbakat mengunci setiap jengkal ruang, memaksa The Reds melakukan serangkaian kesalahan di area pertahanan mereka sendiri.
Dengan hasil ini, catatan pertemuan kedua tim kini menjadi seimbang: masing-masing mengemas tiga kemenangan dari tujuh bentrokan sejarah. Namun, cara Indonesia memenangkan pertandingan malam ini mengirimkan sinyal bahaya ke lanskap sepak bola Asia.
John Herdman berhasil menyajikan antitesis dari permainan pragmatis. Tiga gol tanpa balas, nirbobol, dominasi total secara taktikal, dan runtuhnya kutukan 38 tahun. Malam ini di Jakarta, sepak bola modern dimainkan dengan aksen Indonesia yang fasih.
Editor : Maulana RJ