ANTWERP, Radar Jember - Sepak bola sering kali tentang pilihan, dan bagi Radja Nainggolan, pilihannya di masa lalu kini berbuah pahit yang sulit ditelan.
Mantan jenderal lapangan tengah AS Roma dan Inter Milan itu baru-baru ini melontarkan pernyataan mengejutkan yang berbau penyesalan mendalam terkait karier internasionalnya yang dianggap "layu sebelum berkembang" bersama Timnas Belgia.
Dalam sebuah wawancara blak-blakan di program De Tafel Van Gert, Nainggolan mengakui bahwa ia telah mengorbankan seluruh hidupnya demi seragam The Red Devils (julukan Timnas Belgia). Namun, pengorbanan itu rupanya dibalas dengan luka.
Baca Juga: Kutukan Zidane Terbukti? Tragedi Hat-trick Absen Gli Azzurri di Piala Dunia 2026
Pemain berjuluk "Ninja" ini merasa bahwa apresiasi yang ia terima dari otoritas sepak bola Belgia tidak sebanding dengan dedikasi yang ia berikan.
"Jika saya tahu akan berakhir penuh luka seperti ini, saya akan memilih Indonesia lebih awal," cetus Nainggolan dengan nada getir.
Pernyataan ini seolah menjadi tamparan bagi dirinya sendiri, mengingat di masa primanya, ia lebih memilih menunggu panggilan Belgia ketimbang melirik tanah leluhurnya.
Statistik tidak bisa berbohong. Sepanjang karier gemilangnya di liga elit Eropa, Nainggolan hanya mampu mengoleksi 30 caps untuk Timnas Senior Belgia.
Sebuah angka yang sangat minim untuk pemain sekaliber dirinya yang pernah mendominasi Serie A.
Baca Juga: Paradoks Serie A: Liga Bertabur Bintang Tapi hanya Penonton di Piala Dunia
Ia pun membandingkan pengalamannya saat merumput selama enam bulan di kompetisi Indonesia. Di sana, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di Brussels: rasa hormat yang murni.
"Rasa hormat dan penghargaan yang saya terima dari orang-orang di Indonesia berasal dari dunia yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan dunia sepak bola Belgia," ungkapnya sinis.
Meski kini mengaku bangga tetap menjadi orang Belgia, Nainggolan seolah terjebak dalam kontradiksi.
Di satu sisi ia memuja identitas Eropanya, namun di sisi lain ia meratapi nasibnya yang tidak memilih Garuda ketika kesempatan itu masih terbuka lebar.
Publik sepak bola kini hanya bisa melihat sang Ninja menoleh ke belakang dengan penuh sesal.
Sebuah pelajaran mahal bahwa ketenaran di liga elit Eropa dan pilihan membela tim nasional papan atas dunia tidak menjamin akhir cerita yang bahagia jika rasa hormat dikesampingkan.
Bagi Nainggolan, Indonesia kini adalah "rumah" yang terlambat ia huni.
Editor : Maulana RJ