radar jember - HARI Itu memang Vincent Jenner sengaja bertolak ke Kecamatan Kencong.
Jauh-jauh dari Belanda, Vincent bersama kerabatnya perempuan menuju ke Kencong dan kota Jember.
Usut punya usut, informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, dia menelusuri jejak sejarah dari sang nenek Ivar Jenner. Orang tua dari Vincent.
Bahkan, seusai dari Jember, Vincent mempublikasikan story status di akun Instagram pribadinya, bahwa dia juga pergi ke Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Bahkan dalam story tersebut menampakkan sebuah potongan video dirinya berada di Magelang dan menuliskan sebuah kalimat berbahasa belanda.
“Onze reis begon in Jember, maar leide naar magelang – naar oma, die dar als kind bij pa van de Steur woonde,” tulis Vincent.
Yang artinya bila diterjemahkan di google translate, “Perjalanan kami dimulai di Jember, namun berakhir di Magelang – ke Nenek, yang tinggal di sana saat kecil bersama Pa van de Steur,” beber Vincent.
Dengan cerita dari Vincent tersebut, bila ditarik benang merah jejak sejarah. Kabupaten Jember tak lepas dari sejarah colonial Belanda.
Jawa Pos Radar Jember pun mencoba menggali informasi akan sejarah Belanda di Jember dari akademisi Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej) Dr. Latifatul Izzah.
Dalam penjabarannya sebelum tahun 1850, wilayah Jember mulai menjadi perhatian beberapa investor dari Belanda, terutama karena potensi agrarisnya yang besar.
Namun, pertumbuhan signifikan arus investasi terjadi setelah tahun 1870, seiring meningkatnya permintaan terhadap komoditas tembakau di pasar Eropa.
Tembakau menjadi daya tarik utama yang mendorong ekspansi perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda ke wilayah timur Pulau Jawa, termasuk Afdeling Jember.
“Perluasan usaha ini juga disertai dengan kebutuhan akan tenaga profesional dari Eropa, khususnya dari Belanda, untuk mengelola dan mengawasi kegiatan operasional perkebunan secara langsung,” ucapnya.
Hal itu pun merujuk pada kondisi geografis dan demografis Jember, khususnya daerah-daerah padat penduduk seperti Sukowono, Jelbuk, dan Kencong menjadi faktor strategis bagi pengembangan perkebunan tembakau.
“Dulunya para investor tembakau Belanda, sebagian besar bermukim di kota-kota terdekat seperti Lumajang, menjadikan wilayah Kencong sebagai jalur transit penting menuju pusat-pusat kebun tembakau di Jember. Mereka mencari lahan milik penduduk lokal yang dapat disewa untuk membudidayakan tanaman tembakau yang bernilai jual tinggi di Eropa,” ungkapnya.
Kehadiran orang-orang Eropa di wilayah ini tidak hanya membawa perubahan ekonomi, tetapi juga berdampak sosial-kultural.
Salah satu fenomena yang muncul pada masa itu adalah praktik pernyai-an, yaitu hubungan informal antara pria Belanda dengan perempuan pribumi, yang seringkali tidak diakui secara hukum.
Fenomena ini cukup umum terjadi di kalangan pegawai dan investor kolonial sebagai bentuk relasi kuasa dan dominasi kolonial dalam kehidupan sosial.
“Namun demikian, tidak semua relasi Eropa-pribumi berbentuk relasi informal semacam itu. Sebuah pengecualian menarik dapat ditemukan pada tokoh George Birnie, seorang investor dan pengelola perusahaan tembakau yang berperan besar dalam pengembangan industri tembakau di Jember,” jelas dia.
Berbeda dengan kebiasaan umum masa itu, George Birnie secara resmi menikahi seorang perempuan pribumi bernama Robinah.
Pernikahan ini mencerminkan pendekatan personal yang lebih etis dan legal dalam konteks relasi antara orang Eropa dan masyarakat lokal pada masa kolonial.
Jadi bila merujuk pada sejarah, kehadiran para investor Belanda di wilayah Jember, termasuk Kencong.
“Tidak hanya meninggalkan jejak ekonomi, tetapi juga jejak sosial dan budaya yang membentuk sejarah lokal dan dinamika hubungan antarbangsa di era kolonial Hindia Belanda,” pungkasnya. (bud)
Editor : M. Ainul Budi