Radar Jember - Galasiswa 2026 menjadi ajang alternatif bagi pelajar di Jember untuk mendapatkan jam tanding, terutama bagi sekolah yang belum terakomodasi Liga Pelajar.
Dengan konsep tanpa dikenakan biaya, kompetisi ini diikuti ratusan tim dari tingkat SD hingga SMA dan memberi kesempatan bermain lebih banyak melalui sistem grup.
Sore itu, rumput Stadion Notohadinegoro kembali hidup. Sorak-sorai pelajar pecah saat dua tim SMP saling berhadapan.
Baca Juga: Ditinggal Pergi, Rumah di Jenggawah Jember Berakhir Terbakar, Ini Kronologinya
Bukan laga liga resmi, tapi gairahnya tak kalah panas. Di tengah keterbatasan jam tanding yang selama ini dirasakan banyak sekolah, Galasiswa 2026 hadir menjadi jawaban.
Ajang yang digulirkan Badan Liga Pelajar Jember (BLPJ) Askab PSSI Jember itu membuka ruang lebih luas bagi pelajar untuk merasakan atmosfer pertandingan.
Terutama bagi sekolah-sekolah yang selama ini belum tersentuh kompetisi resmi.
Sebanyak 64 tim SD/MI, 48 tim SMP/MTs, dan 35 tim SMA/SMK/MA ambil bagian. Angka yang menunjukkan satu hal: hausnya jam tanding di kalangan pelajar Jember.
Ketua Panitia Zainul Arifin menyebut, Galasiswa memang dirancang sebagai “rumah kedua” bagi sekolah yang belum terakomodasi di Liga Pelajar.
Baca Juga: Info Laka Lantas Jember: Nyalip dari Kiri, Ibu dan Anak Tewas
“Selama ini tidak semua sekolah punya kesempatan ikut kompetisi resmi. Galasiswa ini untuk mengakomodasi itu. Jadi semua bisa merasakan bertanding,” ujarnya.
Bukan hanya soal kompetisi, pendekatan yang digunakan juga berbeda. Tanpa biaya pendaftaran, sekolah-sekolah yang sebelumnya terkendala finansial kini punya peluang yang sama untuk turun ke lapangan.
Dari situlah geliat sepak bola pelajar mulai terasa lebih merata. “Harapannya sederhana, anak-anak ini senang dulu bermain bola. Dari situ nanti akan muncul talenta-talenta yang bisa berkembang ke jenjang berikutnya,” imbuhnya.
Di lapangan, konsep itu benar-benar diterapkan. Khusus tingkat SD, setiap tim tidak langsung gugur. Mereka diberi kesempatan bermain minimal tiga kali melalui sistem grup.
Format ini memberi ruang bagi para pemain muda untuk belajar, bukan sekadar menang atau kalah. Setiap pertandingan menjadi proses.
Anak-anak belajar membaca permainan, mengatur emosi, hingga membangun kerja sama tim.
Baca Juga: Rekam Jejak Dr Yadyn Palebangan, Dari Jaksa KPK hingga Kajari Jember
Bagi banyak sekolah, inilah momen langka. Kesempatan merasakan atmosfer stadion, mengenakan jersey kebanggaan, hingga berdiri di bawah sorotan sebagai sebuah tim.
Galasiswa bukan sekadar turnamen. Ia menjadi panggung awal. Tempat di mana mimpi-mimpi kecil tentang sepak bola mulai menemukan jalannya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh