Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Akab PSSI Jember Gelar Sertifikasi Pelatih Lisensi D, Sepak Bola Usia Dini Perlu Strategi yang Sederhana

Yulio Faruq Akhmadi • Sabtu, 22 November 2025 | 18:57 WIB

SEMANGAT: Pesepakbola usia dini di SSB Jember Football School tengah bertanding di kompetisi level nasional beberapa waktu lalu. (YULIO/RJ)
SEMANGAT: Pesepakbola usia dini di SSB Jember Football School tengah bertanding di kompetisi level nasional beberapa waktu lalu. (YULIO/RJ)


AJUNG, Radar Jember – Pembinaan pesepak bola harus dimulai sejak usia paling dasar. Namun pendekatan untuk pemain kategori grass root tidak bisa disamakan dengan usia remaja atau dewasa.

Latihan harus dikemas menyenangkan, mudah dipahami, dan strategi yang diberikan wajib sederhana.

Prinsip inilah yang ditekankan dalam sertifikasi lisensi D Askab PSSI Jember yang berlangsung di Stadion Jember Sport Garden, 14–19 November lalu.

Instruktur lisensi D, Danur Dara, menjelaskan pembinaan usia dini terbagi menjadi dua kategori besar. Untuk usia 6–9 tahun, fase ini disebut fun phase, di mana anak-anak masih berproses mengenal dan bersahabat dengan bola.

Fokus latihan adalah kegembiraan, sentuhan bola yang sering, dan membangun ball feeling.

 Format pertandingan yang dianjurkan adalah 4 lawan 4, tanpa tuntutan strategi rumit.

“Yang diajarkan hanya prinsip dasar. Saat menyerang, bentuknya ketupat besar, anak-anak melebar untuk membuka ruang. Saat kehilangan bola, bentuknya ketupat kecil, empat pemain menyempit untuk bertahan rapat,” jelasnya.

Memasuki usia 10–13 tahun, pelatih baru mulai mengenalkan pengembangan keterampilan dan pemahaman bermain.

Format naik menjadi 7 lawan 7 dengan pola dasar seperti 1-3-3 yang bisa berubah saat menyerang. Meski demikian, Danur menegaskan taktik tetap harus sederhana.

“Tidak mungkin memberi strategi rumit kepada anak-anak. Mereka butuh fondasi teknik dan prinsip bermain, bukan skema kompleks yang mereka sendiri belum pahami,” katanya.

Menurut Danur, kesalahan umum pelatih usia dini adalah terlalu fokus pada hasil pertandingan.

Padahal orientasinya bukan mengejar juara, melainkan memastikan perkembangan pemain. “Kalau yang dicari kemenangan, pelatih mudah memaksa anak. Lebih baik fokus membangun pemahaman menyerang–bertahan pengambilan keputusan,” jelasnya.

Sebagai fondasi pembinaan, Danur menganjurkan pelatih menerapkan metode LEARNS.

Mulai dari learner centered, yakni pelatih memahami sasaran latihannya, menciptakan environment yang menyenangkan, memastikan semua anak terlibat aktif, meninjau hasil latihan, terus memperbarui wawasan dan mengembangkan kemampuan pelatih secara berkelanjutan.

“Intinya dua hal wajib dimiliki, metode mengajar yang benar dan keseimbangan teori–praktik. Itu fondasi pembinaan usia dini,” tegasnya.(yul/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #JSG #Lisensi D #PSSI #askab PSSI