Komunitas Gerbang: In-Group Dan Out-Group

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Salah satu penanda perubahan sosial di Kabupaten Jember dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir adalah bermunculannya kawasan hunian baru model klaster dengan rancang bangun rumah bergaya modern dan minimalis. Kehadiran kawasan hunian ini memang merupakan sebuah keniscayaan dari semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat Jember terhadap perumahan yang dipicu oleh pertambahan penduduk serta mobilitas tenaga kerja yang mengiringi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember. Perkembangan perumahan di kawasan urban fringe ini juga diiringi dengan mengemukanya isu penurunan lahan persawahan akibat alih fungsi menjadi kawasan perumahan. Tingkat penurunannya pada tahun 2005-2013 lalu saja sudah mencapai 81,86 Ha/tahun (Sunartomo, 2015), sehingga berpotensi meningkatkan jumlah petani tanpa lahan di Kabupaten Jember.

Pertumbuhan kawasan permukiman baru yang dibangun oleh pihak pengembang swasta di Kabupaten Jember dengan menawarkan fasilitas kredit terjangkau tersebut, ternyata juga beriringan dengan lahirnya sebuah bentuk komunitas-komunitas sosial-kultural baru sesuai dengan nama klaster perumahannya masing-masing seperti representasi dari komunitas gerbang atau gate community. Komunitas ini cenderung memiliki karakteristik lebih eksklusif, segregatif, individualis, formal, kawasan terbatas khusus penghuni, memiliki kontrol dan pengamanan ketat, memiliki gerbang atau portal, dan dinding pemisah sebagai pembatas antarkomunitas. Tidak sembarangan orang bisa memasuki wilayah komunitas gerbang sebab pada umumnya harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu untuk diketahui kepentingannya berkunjung ke wilayah perumahan tersebut.

Karakteristik ini menjadi sebuah kategorisasi yang membedakannya dengan komunitas lain yang telah hadir sebelumnya. Eksistensinya menjadi sangat kontras di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Jember yang masih kental dengan nilai-nilai kebersamaan, kolektivitas, inklusif, dan tradisional. Perlahan-lahan, komunitas gerbang ini akan mengambil alih dan mendominasi hunian di Kabupaten Jember, seiring dengan semakin luasnya alih fungsi lahan pertanian menjadi klaster-klaster hunian komunitas gerbang. Memang pada satu sisi, pertumbuhan permukiman ini tidak dapat dihindarkan dalam konteks perkembangan masyarakat perkotaan di Kabupaten Jember. Namun, pada sisi lain, komunitas gerbang ini juga berpotensi menghadirkan permasalahan tersendiri di dalam tubuh masyarakat Kabupaten Jember.

Identifikasi Konflik In-group dan Out-group

Komunitas gerbang adalah in-group, sekaligus menjadi out-group bagi masyarakat non komunitas gerbang, begitu pula sebaliknya. Sebagai sebuah in-group, komunitas gerbang akan berorientasi ke dalam dengan tujuan untuk menjaga setiap anggotanya agar tetap terlindungi dengan cara meminimalisasi potensi gangguan. Oleh karena itu, karakteristik khas pola komunikasi yang dikembangkan adalah berbasis pada kecurigaan terhadap out-group yang diaktualisasikan dalam bentuk konkret seperti adanya petugas keamanan, portal, one way access, menitipkan kartu identitas penduduk pada pos penjagaan, mencatat di buku tamu, serta interogasi singkat dari petugas keamanan. Sebaliknya, komunitas masyarakat non komunitas gerbang masih mengedepankan relasi atas dasar saling percaya, termasuk kepada orang asing yang masuk ke wilayahnya karena memandang bahwa setiap manusia pada hakikatnya adalah baik. Oleh karena itu, masyarakat non gerbang cenderung membuka akses masuk seluas-luasnya kepada orang lain, tanpa adanya penjagaan, portal, atau pos keamanan.

Perlahan-lahan setiap in-group dan out-group tersebut, berpotensi mengembangkan pelabelan dan stereotipe kepada masing-masing out-group sebagai hasil evaluasi atas perbedaan pola hidupnya. Hal inilah yang apabila dibiarkan berpotensi mengarahkan masyarakat Kabupaten Jember pada sebuah ancaman nyata di masa depan yaitu menjadi masyarakat segregatif yang dalam jangka panjang mengakibatkan munculnya keterasingan antarkomunitas, melemahnya inklusivitas masyarakat, keramahan, gotong royong, toleransi, peduli, dan guyub. Dan, pada saat sekarang ini, bentuk segregasi sosial tersebut telah hadir dalam bentuknya yang paling sederhana yaitu tembok pembatas, penamaan kawasan, termasuk juga eksklusivitas penghuni berbasiskan satu kelompok agama tertentu saja.

Persoalan lain yang harus diwaspadai adalah potensi berkembangnya sikap dan perilaku masyarakat ke arah rivalitas tidak sehat antara komunitas gerbang dan komunitas non gerbang dengan mempergunakan pelabelan dan stereotipe subyektif in-group masing-masing. Tidak tertutup kemungkinan, komunitas gerbang sebagai in-group yang merepresentasikan kemapanan status ekonomi-sosial sebagai bagian dari masyarakat modern, memandang komunitas non gerbang sebagai masyarakat tradisional yang diidentikkan sebagai masyarakat berstrata rendah karena menghuni kawasan perkampungan. Sebaliknya, komunitas non gerbang sebagai in-group memandang dirinya sebagai masyarakat ideal yang erat dengan ikatan komunal, saling mengenal, tolong-menolong, dan mempraktikkan pola hidup saling menghormati. Komunitas non gerbang berpotensi memandang komunitas gerbang sebagai komunitas individualis yang kurang mampu berinteraksi dengan masyarakat di luar komunitasnya.

Permasalahan ini tentu harus dapat diatasi, agar masyarakat Kabupaten Jember tetap dapat mempertahankan jati dirinya sebagai masyarakat pluralis yang mengedepankan kolektivitas di tengah pertumbuhan komunitas gerbang yang semakin masif. Oleh karena itu, perlu dipikirkan dengan baik sebuah strategi pengembangan masyarakat perkotaan di Kabupaten Jember untuk mengatasi hambatan komunikasi, interaksi, dan relasi antara komunitas gerbang dengan komunitas non gerbang. Keterdesakan ini mengacu pada pertimbangan diperlukannya upaya preventif untuk meminimalisasi konflik yang dapat bersumber dari kecemburuan sosial akibat segregasi yang terus menerus dipromosikan baik secara sadar maupun tidak sadar.

Mempromosikan Intergroup Relation

Tugas utama Pemerintah Kabupaten Jember menyikapi fenomena komunitas gerbang serta dinamika perubahan sosial yang mengikutinya adalah membangun keselarasan hidup antar masyarakat sebagai satu tubuh sosial yang sama. Salah satu strategi yang dapat menjadi opsi bagi Pemerintah Kabupaten Jember adalah mengadopsi konsep intergroup relation sehingga memungkinkan terjadinya relasi sosial antarkomunitas yang berbeda. Intergroup relation secara sederhana dipahami sebagai upaya untuk memperkuat relasi antara “kami” dan “mereka” sebagai langkah terstruktur dalam mereduksi ketegangan sosial akibat prasangka dan stereotipe yang berkembang serta sekaligus juga secara bersamaan meningkatkan kohesivitas sosial.

Fokus pengembangan masyarakat sebaiknya diarahkan pada terciptanya beberapa kondisi sebagai berikut: pertama, mutual support yaitu terciptanya iklim saling dukung antarkomunitas masyarakat untuk membangun solidaritas sosial; kedua, kepekaan sosial antarkomunitas yang terbangun melalui proses komunikasi dan interaksi intensif agar tercipta kepedulian sosial antar komunitas; ketiga, cohesiveness yaitu mempromosikan nilai-nilai pengaruh positif yang memungkinkan masing-masing komunitas saling menerima satu sama lain sehingga tercipta ikatan sosial yang kuat; dan, keempat, inklusivitas yang ditandai dengan sikap dan perilaku anggota komunitas yang menghargai perbedaan dan mengembangkan semangat toleransi di dalam kemajemukan masyarakat.

Bentuk yang paling sesuai dengan konsep intergroup relation adalah tersedianya fasilitas publik seperti taman sebagai ruang terbuka yang mempertemukan antarkomunitas untuk mengembangkan dialog terbuka melalui kegiatan olahraga, bermain, edukasi, dan berkesenian, sehingga mampu mempererat relasi antarkomunitas untuk menembus batas-batas sosial dan psikologis yang tercipta. Tugas ini tentu menjadi tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah di setiap jenjangnya, pengembang, tokoh masyarakat dan pemuda, yang dengan kemampuannya masing-masing secara sadar berpartisipasi aktif mengawal perubahan sosial di Kabupaten Jember agar terwujud masyarakat Jember inklusif dan menghargai kearifan lokal serta mampu beradaptasi dengan perkembangan budaya masyarakat selama proses perubahan sosial berlangsung.

*) Penulis adalah dosen FISIP Universitas Jember.