alexametrics
30.3 C
Jember
Sunday, 9 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Cegah Macet, tapi Rawan Laka

Plus Minus Rekayasa Lalin di Perempatan Slawu

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.IDTin tin tin, bunyi klakson truk siang itu mengagetkan salah seorang pengendara motor yang berhenti di lampu merah perempatan Slawu, Kecamatan Patrang. Salah seorang sopir meneriaki pengendara motor di depannya agar tidak berhenti. Perempuan pengedaran motor itu sempat menoleh ke arah lampu yang hanya kelap-kelip kuning. Dia kemudian tancap gas.

Selasa kemarin (28/4), kejadian serupa banyak terjadi di perempatan tersebut. Sebab, di jalur itu tengah dilakukan uji coba rekayasa lalu lintas (lalin) dengan mengaktifkan kembali bundaran, dan menonaktifkan lampu merah. Karena masih awal, banyak pengendara yang bingung. Tak ayal, ada beberapa pengendara yang belum tahu dan memilih berhenti.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jember Siswanto menjelaskan, pihaknya mulai mengadakan sosialisasi rekayasa lalin di simpang empat Slawu, Kecamatan Patrang, kemarin. Rekayasa itu berupa penerapan simpang bundaran yang dilengkapi dengan warning light.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, rekayasa tersebut berdasar hasil evaluasi dan analisis terhadap kondisi lalu lintas dan fisik ruas jalan, serta simpang. Di beberapa titik, kata dia, kerap mengalami delay alias antrean kendaraan panjang. “Setidaknya, ini bisa digunakan untuk meminimalkan antrean kendaraan,” jelasnya.

Dia menuturkan, pelaksanaan evaluasi dan analisis juga akan diberlakukan di beberapa simpang lain. Misalnya, simpang empat Jalan Mastrip dan simpang tiga Kaliputih. “Serta simpang lain yang membutuhkan penanganan dan pengendalian sesuai degan kondisi lalu lintas yang sangat dinamis,” ujarnya.

Sementara itu, Kanit Dikyasa Satlantas Polres Jember Ipda Heru Siswanto menuturkan, pihaknya telah menyiapkan beberapa hal guna melancarkan rekayasa lalin itu. Di antaranya, dengan menggunakan warning light yang berfungsi sebagai tanda untuk para pengendara yang melintas supaya berhati-hati. Juga rambu lalu lintas berbentuk arah panah melingkar yang berarti wajib mengitari bundaran.

Dia menegaskan, rekayasa tersebut bakal terus dikaji dan dipantau menggunakan CCTV yang terpasang di sekitar lampu merah. “Jika memungkinkan untuk dilanjutkan, akan terus diperbaiki. Jika tidak, akan dikembalikan seperti fungsi semula,” pungkasnya.

Dikembalikannya fungsi bundaran di perempatan Slawu ini memunculkan pro dan kontra dari masyarakat sekitar. Rahayu, warga Jalan Manggar, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, mengungkapkan, adanya rekayasa lalin dengan mengaktifkan bundaran memiliki kelebihan, sekaligus kekurangan.

Menurut dia, pengaktifan bundaran memang mengurangi kemacetan dan kebisingan jalan. Namun, hal itu justru membuat persimpangan tersebut rawan terjadi kecelakaan. “Dulu, sering kecelakaan (sebelum menggunakan lampu merah, Red). Meski hanya kecelakaan ringan dan tidak parah,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Jika menggunakan lampu merah, dia menilai, jauh lebih tertib dan tidak rawan. Namun negatifnya, memunculkan antrean panjang kendaraan, bahkan kemacetan. Warga yang rumahnya tak jauh dari pinggir jalan juga terdampak polusi suara akibat bunyi knalpot pengendara. “Jadinya bising,” ujarnya.

Lebih lanjut, Talha, salah seorang tukang becak di sekitar lokasi, menambahkan, kecelakaan yang kerap terjadi di kawasan itu akibat banyak pengendara yang terburu-buru saat melintas. Apalagi kalau pagi hari, ketika jam-jam padat kendaraan. Mulai dari pengendara yang hendak pergi ke kantor hingga mereka yang mengantarkan anak sekolah. Pengendara cenderung melintas dengan kencang tanpa melihat kanan kiri terlebih dahulu saat mengitari bundaran.

Namun, adanya lampu merah dinilainya juga tidak sepenuhnya baik. Sebab, ruas jalan di sana tergolong sempit. “Kalau pas lampu merah, banyak pengendara yang melebihi garis,” ujarnya. Jadi, pengendara dari lawan arah tidak bisa melintas dengan lancar. Bahkan, membuat macet dari berbagai arah.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo, Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.IDTin tin tin, bunyi klakson truk siang itu mengagetkan salah seorang pengendara motor yang berhenti di lampu merah perempatan Slawu, Kecamatan Patrang. Salah seorang sopir meneriaki pengendara motor di depannya agar tidak berhenti. Perempuan pengedaran motor itu sempat menoleh ke arah lampu yang hanya kelap-kelip kuning. Dia kemudian tancap gas.

Selasa kemarin (28/4), kejadian serupa banyak terjadi di perempatan tersebut. Sebab, di jalur itu tengah dilakukan uji coba rekayasa lalu lintas (lalin) dengan mengaktifkan kembali bundaran, dan menonaktifkan lampu merah. Karena masih awal, banyak pengendara yang bingung. Tak ayal, ada beberapa pengendara yang belum tahu dan memilih berhenti.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jember Siswanto menjelaskan, pihaknya mulai mengadakan sosialisasi rekayasa lalin di simpang empat Slawu, Kecamatan Patrang, kemarin. Rekayasa itu berupa penerapan simpang bundaran yang dilengkapi dengan warning light.

Mobile_AP_Half Page

Menurut dia, rekayasa tersebut berdasar hasil evaluasi dan analisis terhadap kondisi lalu lintas dan fisik ruas jalan, serta simpang. Di beberapa titik, kata dia, kerap mengalami delay alias antrean kendaraan panjang. “Setidaknya, ini bisa digunakan untuk meminimalkan antrean kendaraan,” jelasnya.

Dia menuturkan, pelaksanaan evaluasi dan analisis juga akan diberlakukan di beberapa simpang lain. Misalnya, simpang empat Jalan Mastrip dan simpang tiga Kaliputih. “Serta simpang lain yang membutuhkan penanganan dan pengendalian sesuai degan kondisi lalu lintas yang sangat dinamis,” ujarnya.

Sementara itu, Kanit Dikyasa Satlantas Polres Jember Ipda Heru Siswanto menuturkan, pihaknya telah menyiapkan beberapa hal guna melancarkan rekayasa lalin itu. Di antaranya, dengan menggunakan warning light yang berfungsi sebagai tanda untuk para pengendara yang melintas supaya berhati-hati. Juga rambu lalu lintas berbentuk arah panah melingkar yang berarti wajib mengitari bundaran.

Dia menegaskan, rekayasa tersebut bakal terus dikaji dan dipantau menggunakan CCTV yang terpasang di sekitar lampu merah. “Jika memungkinkan untuk dilanjutkan, akan terus diperbaiki. Jika tidak, akan dikembalikan seperti fungsi semula,” pungkasnya.

Dikembalikannya fungsi bundaran di perempatan Slawu ini memunculkan pro dan kontra dari masyarakat sekitar. Rahayu, warga Jalan Manggar, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, mengungkapkan, adanya rekayasa lalin dengan mengaktifkan bundaran memiliki kelebihan, sekaligus kekurangan.

Menurut dia, pengaktifan bundaran memang mengurangi kemacetan dan kebisingan jalan. Namun, hal itu justru membuat persimpangan tersebut rawan terjadi kecelakaan. “Dulu, sering kecelakaan (sebelum menggunakan lampu merah, Red). Meski hanya kecelakaan ringan dan tidak parah,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Jika menggunakan lampu merah, dia menilai, jauh lebih tertib dan tidak rawan. Namun negatifnya, memunculkan antrean panjang kendaraan, bahkan kemacetan. Warga yang rumahnya tak jauh dari pinggir jalan juga terdampak polusi suara akibat bunyi knalpot pengendara. “Jadinya bising,” ujarnya.

Lebih lanjut, Talha, salah seorang tukang becak di sekitar lokasi, menambahkan, kecelakaan yang kerap terjadi di kawasan itu akibat banyak pengendara yang terburu-buru saat melintas. Apalagi kalau pagi hari, ketika jam-jam padat kendaraan. Mulai dari pengendara yang hendak pergi ke kantor hingga mereka yang mengantarkan anak sekolah. Pengendara cenderung melintas dengan kencang tanpa melihat kanan kiri terlebih dahulu saat mengitari bundaran.

Namun, adanya lampu merah dinilainya juga tidak sepenuhnya baik. Sebab, ruas jalan di sana tergolong sempit. “Kalau pas lampu merah, banyak pengendara yang melebihi garis,” ujarnya. Jadi, pengendara dari lawan arah tidak bisa melintas dengan lancar. Bahkan, membuat macet dari berbagai arah.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo, Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.IDTin tin tin, bunyi klakson truk siang itu mengagetkan salah seorang pengendara motor yang berhenti di lampu merah perempatan Slawu, Kecamatan Patrang. Salah seorang sopir meneriaki pengendara motor di depannya agar tidak berhenti. Perempuan pengedaran motor itu sempat menoleh ke arah lampu yang hanya kelap-kelip kuning. Dia kemudian tancap gas.

Selasa kemarin (28/4), kejadian serupa banyak terjadi di perempatan tersebut. Sebab, di jalur itu tengah dilakukan uji coba rekayasa lalu lintas (lalin) dengan mengaktifkan kembali bundaran, dan menonaktifkan lampu merah. Karena masih awal, banyak pengendara yang bingung. Tak ayal, ada beberapa pengendara yang belum tahu dan memilih berhenti.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jember Siswanto menjelaskan, pihaknya mulai mengadakan sosialisasi rekayasa lalin di simpang empat Slawu, Kecamatan Patrang, kemarin. Rekayasa itu berupa penerapan simpang bundaran yang dilengkapi dengan warning light.

Menurut dia, rekayasa tersebut berdasar hasil evaluasi dan analisis terhadap kondisi lalu lintas dan fisik ruas jalan, serta simpang. Di beberapa titik, kata dia, kerap mengalami delay alias antrean kendaraan panjang. “Setidaknya, ini bisa digunakan untuk meminimalkan antrean kendaraan,” jelasnya.

Dia menuturkan, pelaksanaan evaluasi dan analisis juga akan diberlakukan di beberapa simpang lain. Misalnya, simpang empat Jalan Mastrip dan simpang tiga Kaliputih. “Serta simpang lain yang membutuhkan penanganan dan pengendalian sesuai degan kondisi lalu lintas yang sangat dinamis,” ujarnya.

Sementara itu, Kanit Dikyasa Satlantas Polres Jember Ipda Heru Siswanto menuturkan, pihaknya telah menyiapkan beberapa hal guna melancarkan rekayasa lalin itu. Di antaranya, dengan menggunakan warning light yang berfungsi sebagai tanda untuk para pengendara yang melintas supaya berhati-hati. Juga rambu lalu lintas berbentuk arah panah melingkar yang berarti wajib mengitari bundaran.

Dia menegaskan, rekayasa tersebut bakal terus dikaji dan dipantau menggunakan CCTV yang terpasang di sekitar lampu merah. “Jika memungkinkan untuk dilanjutkan, akan terus diperbaiki. Jika tidak, akan dikembalikan seperti fungsi semula,” pungkasnya.

Dikembalikannya fungsi bundaran di perempatan Slawu ini memunculkan pro dan kontra dari masyarakat sekitar. Rahayu, warga Jalan Manggar, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, mengungkapkan, adanya rekayasa lalin dengan mengaktifkan bundaran memiliki kelebihan, sekaligus kekurangan.

Menurut dia, pengaktifan bundaran memang mengurangi kemacetan dan kebisingan jalan. Namun, hal itu justru membuat persimpangan tersebut rawan terjadi kecelakaan. “Dulu, sering kecelakaan (sebelum menggunakan lampu merah, Red). Meski hanya kecelakaan ringan dan tidak parah,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Jika menggunakan lampu merah, dia menilai, jauh lebih tertib dan tidak rawan. Namun negatifnya, memunculkan antrean panjang kendaraan, bahkan kemacetan. Warga yang rumahnya tak jauh dari pinggir jalan juga terdampak polusi suara akibat bunyi knalpot pengendara. “Jadinya bising,” ujarnya.

Lebih lanjut, Talha, salah seorang tukang becak di sekitar lokasi, menambahkan, kecelakaan yang kerap terjadi di kawasan itu akibat banyak pengendara yang terburu-buru saat melintas. Apalagi kalau pagi hari, ketika jam-jam padat kendaraan. Mulai dari pengendara yang hendak pergi ke kantor hingga mereka yang mengantarkan anak sekolah. Pengendara cenderung melintas dengan kencang tanpa melihat kanan kiri terlebih dahulu saat mengitari bundaran.

Namun, adanya lampu merah dinilainya juga tidak sepenuhnya baik. Sebab, ruas jalan di sana tergolong sempit. “Kalau pas lampu merah, banyak pengendara yang melebihi garis,” ujarnya. Jadi, pengendara dari lawan arah tidak bisa melintas dengan lancar. Bahkan, membuat macet dari berbagai arah.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo, Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Perketat dengan 5 Pos Penyekatan

Masih Megah Meski Tak Berfungsi

Hanya Dijual Lewat Daring

Kemangi, Kunci Wangi Alami

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

× Info Langganan Koran