alexametrics
30.3 C
Jember
Sunday, 9 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Pemimpin Diktator Itu Akhirnya Tumbang

Fragmen Drama, Ingatkan pada Rezim Orba

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lampu panggung perlahan mulai menyala. Diiringi lagu era 80-an, seorang profesor muncul dengan langkah gontai. Dia kemudian duduk dan bersandar di kursi ujung pentas. Kepalanya bergerak perlahan mengikuti irama musik. Sejurus kemudian, dia menghela napas. Tangannya bergerak ragu menjamah catatan hasil eksperimen yang tak jauh dari tempat duduknya itu.

Baru sekejap bersandar, matanya tiba-tiba melotot. Napasnya mendengus panjang, yang diikuti dengan menggebrak meja. “Harmo! Moko!,” pekiknya memanggil para asisten. Kedua asisten yang tergopoh-gopoh datang langsung dicaci karena berani meninggalkan catatan eksperimen milik sang profesor begitu saja. Dia sangat murka.

Profesor menyebut, eksperimen yang berbentuk manusia itu nantinya bakal didoktrin sesuai keinginannya. Ada yang menjadi pejabat, kaum hippie, dan aktivis. Setiap perkembangannya ia catat sedemikian detail dalam bentuk dokumen. Hanya, eksperimennya gagal karena manusia percobaannya tersebut memiliki prinsip yang kuat. Kesal, sang profesor pergi meninggalkan laboratorium.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rupanya, salah seorang asistennya, Moko, berkhianat. Dia mendekati tiga manusia eksperimen itu. Moko berlagak sebagai pemimpin dan berhasil membuat ketiganya menurut sesuai dengan keinginannya. Bahkan dalam perjalanannya, dia membunuh Harmo, temannya sendiri, untuk memuluskan ambisinya sebagai pemimpin.

Kekuasaan Moko akhirnya tumbang juga. Gaya memimpin yang otoriter, membuat tiga manusia eksperimen itu memberontak. Berbagai benda di laboratorium pun diacak-acak. Hingga ketiganya merobohkan Moko. Tuan mereka. Dengan cepat, sebuah benda tajam menembus dada Moko. Ia tewas bersimbah darah.

Fragmen ini memberi pesan bahwa sekuat apa pun kekuasaan yang dibangun dengan cara-cara lancung, bakal berakhir tragis. Lakon dalam pementasan itu juga menggambarkan bagaimana kuatnya Orde Baru (Orba) kala itu, tapi ujungnya tumbang juga dengan gerakan rakyat. Karakter Moko, mewakili Orba, sedangkan tiga manusia eksperimen adalah rakyat.

Aulina Roudlotul Jannah, sutradara drama berjudul Soak itu, menerangkan bahwa pementasan ini bermaksud untuk menggugah ingatan kolektif masyarakat pada tragedi akhir 90-an lalu. “Saat itu, seluruh elemen masyarakat berkumpul menjadi satu untuk menggulingkan kepemimpinan Soeharto,” ungkap mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unej tersebut.

Pementasan tersebut juga memberi pesan bahwa rakyat itu sebenarnya adalah produk dari pemimpinnya. Dan kegagalan pemimpin bakal berakibat fatal pada rakyat karena akan menimbulkan luapan ketidakpuasan. Imbasnya, muncul aksi protes hingga menggiring pada situasi yang tidak diinginkan. Untuk itu, pemimpin yang berkuasa harus menggunakan wewenangnya dengan bijak. “Jika tidak, bisa menjadi bumerang,” tutur Dwi Aprilia, Ketua UKM Teater Tiang, yang sekaligus menjadi aktor dalam drama tersebut.

Menurut dia, pementasan itu baru kali pertama digelar setelah pandemi melanda Jember, lebih setahun lalu. Sebelumnya, hanya berlangsung daring sehingga tidak maksimal. Selain itu, kampus juga belum mengizinkan siapa pun untuk mengadakan kegiatan. “Jadi, harus menyewa gedung di luar kampus supaya bisa mentas offline,” ungkap perempuan kelahiran Berau, Kalimantan Timur, tersebut.

Kini, setelah bisa berkreasi kembali, Aprilia mengaku senang. Sebab, tak hanya menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan di bidang drama, tapi juga menumbuhkan kembali antusiasme terhadap seni peran. Terlebih, selama setahun belakangan ini pementasan-pementasan semacam itu nyaris mati suri.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lampu panggung perlahan mulai menyala. Diiringi lagu era 80-an, seorang profesor muncul dengan langkah gontai. Dia kemudian duduk dan bersandar di kursi ujung pentas. Kepalanya bergerak perlahan mengikuti irama musik. Sejurus kemudian, dia menghela napas. Tangannya bergerak ragu menjamah catatan hasil eksperimen yang tak jauh dari tempat duduknya itu.

Baru sekejap bersandar, matanya tiba-tiba melotot. Napasnya mendengus panjang, yang diikuti dengan menggebrak meja. “Harmo! Moko!,” pekiknya memanggil para asisten. Kedua asisten yang tergopoh-gopoh datang langsung dicaci karena berani meninggalkan catatan eksperimen milik sang profesor begitu saja. Dia sangat murka.

Profesor menyebut, eksperimen yang berbentuk manusia itu nantinya bakal didoktrin sesuai keinginannya. Ada yang menjadi pejabat, kaum hippie, dan aktivis. Setiap perkembangannya ia catat sedemikian detail dalam bentuk dokumen. Hanya, eksperimennya gagal karena manusia percobaannya tersebut memiliki prinsip yang kuat. Kesal, sang profesor pergi meninggalkan laboratorium.

Mobile_AP_Half Page

Rupanya, salah seorang asistennya, Moko, berkhianat. Dia mendekati tiga manusia eksperimen itu. Moko berlagak sebagai pemimpin dan berhasil membuat ketiganya menurut sesuai dengan keinginannya. Bahkan dalam perjalanannya, dia membunuh Harmo, temannya sendiri, untuk memuluskan ambisinya sebagai pemimpin.

Kekuasaan Moko akhirnya tumbang juga. Gaya memimpin yang otoriter, membuat tiga manusia eksperimen itu memberontak. Berbagai benda di laboratorium pun diacak-acak. Hingga ketiganya merobohkan Moko. Tuan mereka. Dengan cepat, sebuah benda tajam menembus dada Moko. Ia tewas bersimbah darah.

Fragmen ini memberi pesan bahwa sekuat apa pun kekuasaan yang dibangun dengan cara-cara lancung, bakal berakhir tragis. Lakon dalam pementasan itu juga menggambarkan bagaimana kuatnya Orde Baru (Orba) kala itu, tapi ujungnya tumbang juga dengan gerakan rakyat. Karakter Moko, mewakili Orba, sedangkan tiga manusia eksperimen adalah rakyat.

Aulina Roudlotul Jannah, sutradara drama berjudul Soak itu, menerangkan bahwa pementasan ini bermaksud untuk menggugah ingatan kolektif masyarakat pada tragedi akhir 90-an lalu. “Saat itu, seluruh elemen masyarakat berkumpul menjadi satu untuk menggulingkan kepemimpinan Soeharto,” ungkap mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unej tersebut.

Pementasan tersebut juga memberi pesan bahwa rakyat itu sebenarnya adalah produk dari pemimpinnya. Dan kegagalan pemimpin bakal berakibat fatal pada rakyat karena akan menimbulkan luapan ketidakpuasan. Imbasnya, muncul aksi protes hingga menggiring pada situasi yang tidak diinginkan. Untuk itu, pemimpin yang berkuasa harus menggunakan wewenangnya dengan bijak. “Jika tidak, bisa menjadi bumerang,” tutur Dwi Aprilia, Ketua UKM Teater Tiang, yang sekaligus menjadi aktor dalam drama tersebut.

Menurut dia, pementasan itu baru kali pertama digelar setelah pandemi melanda Jember, lebih setahun lalu. Sebelumnya, hanya berlangsung daring sehingga tidak maksimal. Selain itu, kampus juga belum mengizinkan siapa pun untuk mengadakan kegiatan. “Jadi, harus menyewa gedung di luar kampus supaya bisa mentas offline,” ungkap perempuan kelahiran Berau, Kalimantan Timur, tersebut.

Kini, setelah bisa berkreasi kembali, Aprilia mengaku senang. Sebab, tak hanya menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan di bidang drama, tapi juga menumbuhkan kembali antusiasme terhadap seni peran. Terlebih, selama setahun belakangan ini pementasan-pementasan semacam itu nyaris mati suri.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lampu panggung perlahan mulai menyala. Diiringi lagu era 80-an, seorang profesor muncul dengan langkah gontai. Dia kemudian duduk dan bersandar di kursi ujung pentas. Kepalanya bergerak perlahan mengikuti irama musik. Sejurus kemudian, dia menghela napas. Tangannya bergerak ragu menjamah catatan hasil eksperimen yang tak jauh dari tempat duduknya itu.

Baru sekejap bersandar, matanya tiba-tiba melotot. Napasnya mendengus panjang, yang diikuti dengan menggebrak meja. “Harmo! Moko!,” pekiknya memanggil para asisten. Kedua asisten yang tergopoh-gopoh datang langsung dicaci karena berani meninggalkan catatan eksperimen milik sang profesor begitu saja. Dia sangat murka.

Profesor menyebut, eksperimen yang berbentuk manusia itu nantinya bakal didoktrin sesuai keinginannya. Ada yang menjadi pejabat, kaum hippie, dan aktivis. Setiap perkembangannya ia catat sedemikian detail dalam bentuk dokumen. Hanya, eksperimennya gagal karena manusia percobaannya tersebut memiliki prinsip yang kuat. Kesal, sang profesor pergi meninggalkan laboratorium.

Rupanya, salah seorang asistennya, Moko, berkhianat. Dia mendekati tiga manusia eksperimen itu. Moko berlagak sebagai pemimpin dan berhasil membuat ketiganya menurut sesuai dengan keinginannya. Bahkan dalam perjalanannya, dia membunuh Harmo, temannya sendiri, untuk memuluskan ambisinya sebagai pemimpin.

Kekuasaan Moko akhirnya tumbang juga. Gaya memimpin yang otoriter, membuat tiga manusia eksperimen itu memberontak. Berbagai benda di laboratorium pun diacak-acak. Hingga ketiganya merobohkan Moko. Tuan mereka. Dengan cepat, sebuah benda tajam menembus dada Moko. Ia tewas bersimbah darah.

Fragmen ini memberi pesan bahwa sekuat apa pun kekuasaan yang dibangun dengan cara-cara lancung, bakal berakhir tragis. Lakon dalam pementasan itu juga menggambarkan bagaimana kuatnya Orde Baru (Orba) kala itu, tapi ujungnya tumbang juga dengan gerakan rakyat. Karakter Moko, mewakili Orba, sedangkan tiga manusia eksperimen adalah rakyat.

Aulina Roudlotul Jannah, sutradara drama berjudul Soak itu, menerangkan bahwa pementasan ini bermaksud untuk menggugah ingatan kolektif masyarakat pada tragedi akhir 90-an lalu. “Saat itu, seluruh elemen masyarakat berkumpul menjadi satu untuk menggulingkan kepemimpinan Soeharto,” ungkap mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unej tersebut.

Pementasan tersebut juga memberi pesan bahwa rakyat itu sebenarnya adalah produk dari pemimpinnya. Dan kegagalan pemimpin bakal berakibat fatal pada rakyat karena akan menimbulkan luapan ketidakpuasan. Imbasnya, muncul aksi protes hingga menggiring pada situasi yang tidak diinginkan. Untuk itu, pemimpin yang berkuasa harus menggunakan wewenangnya dengan bijak. “Jika tidak, bisa menjadi bumerang,” tutur Dwi Aprilia, Ketua UKM Teater Tiang, yang sekaligus menjadi aktor dalam drama tersebut.

Menurut dia, pementasan itu baru kali pertama digelar setelah pandemi melanda Jember, lebih setahun lalu. Sebelumnya, hanya berlangsung daring sehingga tidak maksimal. Selain itu, kampus juga belum mengizinkan siapa pun untuk mengadakan kegiatan. “Jadi, harus menyewa gedung di luar kampus supaya bisa mentas offline,” ungkap perempuan kelahiran Berau, Kalimantan Timur, tersebut.

Kini, setelah bisa berkreasi kembali, Aprilia mengaku senang. Sebab, tak hanya menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan di bidang drama, tapi juga menumbuhkan kembali antusiasme terhadap seni peran. Terlebih, selama setahun belakangan ini pementasan-pementasan semacam itu nyaris mati suri.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Isnein Purnomo
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Perketat dengan 5 Pos Penyekatan

Masih Megah Meski Tak Berfungsi

Hanya Dijual Lewat Daring

Kemangi, Kunci Wangi Alami

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

× Info Langganan Koran