Syarat Perpanjangan SBU Notohadinegoro Belum Tuntas

Berlaku SBU Sementara hingga 22 Desember

HANYA TINGGAL WINGS: Para penumpang pesawat saat tiba di bandara Notohadinegoro, Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan Bandar Udara Notohadinegoro memang menjadi kebanggaan warga Jember. Namun, beberapa waktu lalu, muncul kabar mengejutkan mengenai matinya sertifikat bandar udara (SBU). Saat perpanjangan SBU dilakukan, ada sejumlah syarat yang ternyata belum dipenuhi, sehingga SBU yang keluar bersifat sementara, yakni satu bulan.

Hal itu terungkap dalam rapat dengar pendapat antara Dinas Perhubungan dan Komisi C DPRD Jember. Ada delapan syarat yang harus dipenuhi agar bisa mendapatkan SBU secara permanen.

Kepala Dinas Perhubungan Hadi Mulyono mengungkapkan, dari delapan syarat yang harus dipenuhi itu, beberapa di antaranya masih belum selesai. Yakni Aerodrome Manual (AM) atau buku pedoman pengoperasian bandara, Aerodrome Safety Management System Manual (SMS) atau buku pedoman sistem manajemen keselamatan operasi bandara.

“Ada juga Airport Emergency Plan (AEP) atau penanggulangan keadaan darurat. Dokumen-dokumen itu yang harus diselesaikan. Sebagian sudah selesai dan sebagian proses,” ucapnya.

Berkaitan dengan dokumen rencana induk bandara atau dikenal dengan master plan, Hadi mengaku sudah tuntas. Namun, karena ada kerja sama antara Pemkab Jember, PTPN 12, serta PT Angkasa Pura II, maka master plan itu digodok kembali.

Master plan itu sebenarnya sudah selesai, tetapi karena sekarang bekerja sama dengan PT Angkasa Pura II, maka perlu penyesuaian. Saat ini, master plan sudah ada di Angkasa Pura, yang nanti akan diajukan ke Kementerian Perhubungan untuk perpanjangan SBU,” terangnya.

Dengan adanya SBU sementara yang berlaku sejak 22 November hingga 22 Desember 2019 nanti, Hadi optimistis delapan persyaratan yang wajib dipenuhi bisa selesai. “Saat ini masih memakai SBU sementara. Ke depan, kami pun terus berupaya agar mendapat SBU permanen. Tentu kami akan tetap berkoordinasi dengan pihak terkait,” tegasnya.

Hadi mengungkap, bandara yang masih masuk kategori kelas 4 akan terus dikembangkan. Sekarang, bandara berdiri di lahan seluas 112 hektare yang seluruhnya masuk PTPN 12. Untuk bisa masuk ke kelas tiga atau kelas dua, maka perlu pelebaran lahan.

Bandara kelas tiga yang bisa digunakan sebagai embarkasi sedikitnya harus berdiri di atas lahan yang luasnya minimal 200 hektare. “Termasuk panjang runway yang saat ini 1.600 meter, nanti juga harus diperpanjang,” tegasnya.

Kepala UPT Bandara Notohadinegoro Dishub Jember Edi Purnomo menjelaskan,  pesawat yang ada sekarang berkapasitas 72 penumpang. Apabila pengembangan nantinya dilakukan, maka bandara Jember juga akan bisa mengoperasikan pesawat yang lebih besar lagi.

Berkaitan dengan tidak beroperasinya maskapai Citilink, Edi menyebut, bukan terjadi karena SBU yang sempat mati. Melainkan, jam terbang Citilink yang dinilai kurang tepat.

Saat ini, kondisi penumpang secara nasional turun. Citilink yang beroperasi, rata-rata hanya terisi sekitar 30 persen dari 72 kursi penumpang. “Kalau jam terbangnya pagi, maka akan lebih ramai. Kami juga komunikasi dengan pihak maskapai,” terangnya.

Perwakilan maskapai WingsAir, Muhammad Nino Nurcahyono menjelaskan, kondisi penumpang dari Jember ke Surabaya rata-rata masih di bawah 50 persen. Sementara, dari Surabaya ke Jember rata-rata mencapai 90 persen. “Penumpang dari Jember rata-rata mau ke Jakarta. Kalau pengembangan bandara bisa masuk kelas tiga, tentu akan bisa membuka rute Jember-Jakarta,” tambahnya.

Ketua Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto menyebut, matinya SBU bandara harus menjadi pelajaran agar tidak terulang. “Jangan sampai SBU itu mati lagi. Hari ini SBU-nya hanya berlaku sementara, harap untuk segera diurus agar mendapat SBU permanen,”  pintanya.

IKLAN

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Bagus Supriadi