Perjuangan Tamzun, Sosok Perintis SLB di Jember

Pernah Diusir dan Ditolak hingga Dianggap Penculik Anak

Keberadaan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Jember yang kini jumlahnya puluhan dan tersebar di beberapa tempat, tidak lain adalah perjuangan para perintis SLB. Salah satunya adalah Tamzun, yang sudah 20 tahun mengabdi untuk sekolah disabilitas.

TOKOH DISABILITAS: Tamzun mendapatkan penghargaan sebagai tokoh peduli disabilitas pada HDI, kemarin (3/12) di Alun-alun Jember. Pria 61 tahun ini yang telah mengabdi 20 tahun sebagai perintis SLB di Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebuah karpet merah mengantarkan Tamzun menuju panggung utama pada peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) di Alun-alun Jember, kemarin (3/12). Bahkan, nama Tamzun pun menjadi nama yang pertama dipanggil panita HDI untuk mendapatkan penghargaan.

Tokoh peduli disabilitas, itulah penghargaan yang didapat Tamzun. Seusai turun dari panggung, tidak sedikit dari mereka yang juga mendapatkan penghargaan sungkem ke Tamzum. “Ini guru saya dulu,” ucap salah satu penyandang disabilitas.

Tamzun termasuk sosok pengajar difabel tertua di Jember. Bahkan bisa dikatakan yang pertama. Pria 61 tahun ini sebelum terjun ke pendidikan khusus disabilitas, terlebih dahulu dia mengenyam pendidikan Sekolah Guru Agama (SGA). Lulus 1977, dia pun disarankan melanjutkan ke Pendidikan Luar Biasa (PLB) setingkat Diploma 2 di Surabaya. “Waktu itu disarankan oleh mbah Kiai Zainuri, guru saya di SGA,” paparnya.

Tanpa banyak bicara, Tamzun menuju Surabaya dan lanjut ke PLB. Awal kali sekolah di PLB, pria berkacama ini kaget dengan bahan ajarnya. Sebab, dalam bayangannya tidak ada sama sekali mengajar untuk orang-orang disabilitas. “Saya kira PLB untuk sekolah luar biasa, yaitu isinya anak-anak pintar, karena namanya sekolah luar biasa. Ternyata untuk anak-anak yang membutuhkan pertolongan yaitu disabilitas,” paparnya.

Sejak masuk di PLB, secara perlahan hati nurani Tamzun terasah untuk peduli pendidikan pada difabel. Dua tahun, Tamzun menyerap ilmu pengajaran tuna daksa dan tuna grahita, termasuk belajar membaca huruf braile, serta bahasa isyarat untuk tuna rungu atau tuli.

Kemudian, pada 1979, Tamzun bersama temannya-temannya, Fanani, Mubarokah dan Ambarwiyah, merintis SLB di Jember. Awalnya tidak langsung megah. Hanya satu petak rumah kontrakan di Gebang yang mereka sulap menjadi SLB.

Membuka sekolah rintisan, juga tidak langsung dapat bekerja jadi pengajar. “Awal kali buka ya tidak ada murid. Butuh waktu empat bulan baru dapat murid. Total pertama ada 14 murid. Baik itu tuna netra, tuna runggu, dan tuna daksa,” ungkapnya.

Walau mendapatkan sponsor dari Palang Merah Indonesia (PMI) Jember, melalui Bupati Jember yang saat itu dijabat Letkol Soepono. Uang pribadi Tamzun juga kerap dipakai untuk kepentingan sekolah. “Namanya perintis ya susah dulu,” imbuhnya. Menurut dia, susahnya menjadi perintis, bukan soal uang yang habis terpakai. Tapi, bagaimana bisa memberikan kepercayaan orang tua dari anak difabel mau sekolah.

Diusir, ditolak, hingga dianggap sebagai penculik anak-anak kerap kali diterimanya saat mencari anak-anak difabel. “Orang tua itu takut anaknya diculik dan tidak dikembalikan. Ada juga yang mengira anaknya akan dijual,” ujarnya.

Setiap waktu, Tamzun bersama rekan-rekannya tak berhenti mendekat ke masyarakat. Mereka memberikan edukasi tentang SLB, termasuk mencari tahu informasi anak-anak cacat di mana saja.

Setelah dua tahun berjalan, SLB perintis ini pindah ke SD Inpres di Kaliwates. Hingga terus melebarkan sayapnya membuka SLB di belakang Kantor PMI Jember Jl Jawa, Bintoro, dan kini ada 11 SLB. Tak sedekar itu, dirinya juga mulai mengembangkan SD Inklusi dengan total 62 sekolah yang tersebar di sejumlah kecamatan di Jember. “Ada juga SMP Inklusi dan SMK Inklusi,” tambahnya.

Selama puluhan tahun menjadi pengajar SLB, tidak sedikit orang mengira Tamzun adalah penyandang disabilitas. “Ya karena saya berkomunikasi dengan tuli memakai bahasa isyarat. Banyak juga yang mengira saya itu juga tuli,” paparnya. Bahkan, wali murid SLB juga berkomunikasi dengan Tamzun seperti berbicara dengan tuna rungu.

Walau usianya telah senja, Tamzun termasuk orang berada di balik jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) IKIP PGRI Jember. “Waktu itu saya melihat kebutuhan guru untuk SLB ini kurang. PLB di IKIP PGRI adalah bentuk pemenuhan guru SLB sekaligus memberikan jembatan disabilitas yang ingin jadi guru SLB,” imbuhnya.

Meski telah malang melintang di dunia pendidikan bagi disabilitas, namun Tamzun masih merasa mimpinya belum sepenuhnya terwujud. Kini, dia memiliki satu cita-cita lagi yang ingin digapai. Yaitu membuat sekolah keahlian untuk difabel setingkat pendidikan diploma. Sebab, dirinya ingin difabel yang punya kemampuan semakin terasah dan bisa diserap ke dunia pendidikan.

IKLAN

Reporter : Nur Hariri, Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi